PBNU Jelaskan Urgensi Masjid untuk Dunia Pendidikan

  • Bagikan
gus ghofur
Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimoen (Foto Istimewa)

BERITA9, JAKARTA – Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimoen atau biasa disapa Gus Ghofur menjelaskan bahwa fungsi masjid bukan hanya untuk beribadah, tapi juga bisa menjadi lembaga pendidikan dan sentra ekonomi kerakyatan.

“Kalau kita mau mengembangkan sistem pendidikan, maka masjid sebagai bagian utama dari pendidikan tidak bisa ditinggalkan,” paparnya dalam webinar nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, Jawa Timur, pada Senin (22/11/2021).

Dalam webinar yang bertajuk Arus Baru Pendidikan Islam: Refleksi Santri untuk Kejayaan KNRI, Gus Ghofur menyayangkan, saat ini masih banyak masjid yang hanya digunakan sebagai tempat beribadah, tapi dibatasi untuk kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk kegiatan pendidikan.

“Bahkan orang tidur pun dilarang di dalam masjid. Padahal, bisa jadi, orang yang tidur di majid itu punya nilai spiritualitas lebih,” imbuhnya. Putra kelima almarhum KH Maimoen Zubair itu memaparkan, institusi pendidikan pertama dalam Islam adalah masjid. Terbukti, Rasulullah tidak hanya menggunakan masjid untuk tempat ibadah, tetapi juga sebagai majelis transfer ilmu.

“(Sejarah) pendidikan dengan demikian tidak bisa dipisahkan dari peran besar masjid,” ujar Gus Ghofur.

Selain sebagai tempat ibadah dan transfer ilmu, lanjut Gus Ghofur, dalam catatan sejarah, masjid juga digunakan sebagai rumah fatwa, universitas, kamp strategis terhadap kekuasaan yang lalim, dan lain sebagainya. Sistem halaqah. Pada kesempatan itu, Gus Ghofur juga mengungkapkan bahwa selain masjid menjadi unsur penting dalam pendidikan Islam, belajar dengan sistem halaqah juga tidak kalah penting.

Biasanya sistem ini juga dilakukan di dalam masjid. Halaqah merupakan sistem belajar mengajar dengan murid dan guru duduk secara tatap muka dan tanpa memakai kursi.

Sistem  ini berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.

“Sistem ini diadopsi oleh pesantren dalam model belajar bandongan dan sorogan,” kata Gus Ghofur.

Sistem halaqah sendiri sudah diterapkan jauh sejak zaman Rasulullah saw dan dilanjutkan oleh para sahabatnya. Dikisahkan, salah seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah, ketika mengajar di masjid sambil menyender di tiang, sementara murid-muridnya duduk mengelilingi.

Gus Ghofur berharap agar pendidikan modern tidak meninggalkan sistem halaqah seperti ini. Bahkan, menurut dia, materi yang dikembangkan di dalam halaqah ini tidak hanya ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-limu umum.

“Matematika, kedokteran, sejarah, itu juga lahir di halaqah seperti ini. Bahkan uskup di Italia, itu belajarnya juga di halaqah-halaqah masjid,” papar Gus Ghofur.

Dakwah Islam Selain menjadi unsur penting dalam dunia pendidikan Islam, dalam catatan sejarah, masjid juga merupakan tempat strategis untuk menyampaikan dakwah Islam. “Setiap pasukan Islam menginjakkan kakinya ke tanah rantau, maka tak lupa segera menyebarkan Al-Qur’an melalui masjid,” jelas Gus Ghofur.

Hal ini dibuktikan dengan berdirinya masjid-masjid tersohor di sejumlah wilayah Islam sebagai institusi pendidikan, seperti Masjid Al-Azhar di Mesir, Masji Al-Qurawiyyin di Fans, Maroko, dan Masjid Az-Zaituniyah di Tunis. “Nabi Muhammad saw sendiri ketika menginjakkan kaki di Madinah, pertama kali yang belliau bangun adalah Masjid Quba’, lalu Masjid Nabawi,” pungkas Gus Ghofur. (*)

Sumber: NU Online

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *