Usmar Ismail, Jejak Ketokohan dan Dikhianati Rekan Sendiri

  • Bagikan

Membangun perfilman dengan pariwisata berujung pengkhianatan dan tragedi (cerita tentang Pahlawan Nasional Usmar Ismail)

Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia yang November lalu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, dalam upaya membangun perfilman nasional dengan pariwisata, berujung nestapa terhadap dirinya sendiri. Dikecam dan dimusuhi rekannya, dikhianati bangsanya sendiri.

Berikut ini adalah kutipan dari artikel yang diarsipkan Sinematek Indonesia, ditulis ulang, untuk dibaca-baca tatkala perfilman Indonesia sedang dikucuri dana bantuan PEN Subsektor Film oleh pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Suara petasan bersahutan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, menjelang malam pergantian menuju tahun 1971. Ali Sadikin menghelat pesta petasan guna mempromosikan wisata Jakarta bertajuk Old and New.

Di puncak Gedung Sarinah Jalan MH Thamrin itu, Usmar Ismail memimpin rapat penguburan perusahaan yang dipimpinnya sendiri. Suatu pekerjan pahit, mengingat Usmar Ismail harus membubarkan PT Ria Sari sekaligus menutup Miraca Sky Club, klub malam pertama di Indonesia yang dikelolanya sejak 1967.

“Kita telah susah payah membangun Miraca, tetapi orang lain yang menikmati keuntungannya,” kata Usmar Ismail seperti dikutip oleh Mardanas Safwan dalam Riwayat Hidup H. Usmar Ismail (1976: hlm. 46).

Di sela uraiannya itu, Usmar membuat janji bahwa dirinya akan kembali mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam perfilman seperti yang pernah menjadi bagian idealismenya sepanjang dekade 1950-an.

Untuk itu, Usmar Ismail berencana membeli kembali seluruh saham Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) yang ia dirikan dua puluh tahun sebelumnya.
Sutradara Turino Djunaidi, bekas anak didik Usmar Ismail di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), menyambut gembira keputusan gurunya itu (Tempo (5/6/1972).

Turino sempat menyelenggarakan pesta khusus merayakan kembalinya Usmar Ismail, tapi yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang. Sampai seorang kolega membawa kabar duka bahwa Usmar Ismail telah meninggal dunia, pada 2 Januari 1971.

Dalam buku 100 Orang Kuat Perfilman Indonesia yang saya tulis, tercatatkan di situ bahwa Usmar Ismail sempat menghadiri pesta tahun baru pada malam harinya, namun kurang bersemangat.

Sepulang dari pesta tahun baru itu, paginya (1 Januari 1971), seusai shalat subuh, kepalanya pusing, yang kemudian diketahui kena serangan stroke. Budayawan Rosihan Anwar dalam salah satu catatannya, menduga bahwa iparnya itu tutup usia dalam kondisi kecewa dan stres yang dialaminya selama beberapa tahun terakhir.

Ada masa Usmar Ismail memang mengalami tekanan berat dalam membangun industri perfilman Indonesia. Perusahaan Perfini yang dirintis dan dibangunnya sempat bangkrut. Dalam kondisi serba frustrasi, Usmar Ismail berusaha menghidupi sisa-sisa karyawannya di Perfini melalui jalur industri pariwisata.

Ia membangun Miraca Sky Club, sebuah restoran dan klub hiburan di atap Gedung Sarinah di Jalan Thamrin.
Keputusan Usmar membangun Miraca membuatnya digiring ke dalam pusaran kritik.

Teman-teman separtainya di NU mengecam keras, bahkan memusuhinya hingga membuat Usmar Ismail angkat kaki dari keanggotaan DPR-GR. Kemarahan mereka terhadap Usmar Ismail semakin memuncak ketika sebuah band impor bernama Ladybird yang beranggotakan lima perempuan topless manggung di klub malam milik Usmar Ismail.

Propaganda mengenai Ladybird yang disebar ke pelbagai media cetak, konon, membuat Usmar Ismail dipanggil Presiden, dan di sana Usmar Ismail berusaha meyakinkan bahwa usahanya itu dilakukan semata-mata demi kepentingan mendorong pariwisata Jakarta, sesuai dengan kebijakan Ali Sadikin.

Pembelaan Usmar Ismail ditanggapi dingin, berujung pada proses akuisisi terhadap badan usaha miliknya.

“Saya habis, saya telah dikhianati,” ujar Usmar Ismail kepada salah seorang pembantu terdekatnya. (*)

  • Bagikan