Nahdlatul Ulama untuk Perdamaian Dunia

  • Bagikan

Salah satu tema Muktamar NU ke 34 adalah NU untuk perdamaian dunia. Entah kebetulan atau tidak , muktamar NU tersebut telah memilih sosok yang selama ini memang memperjuangkan hal tersebut.

KH.Kholil Yahya Tsaquf sebelumnya memang sering diundang sebagai pembicara dalam forum internasional tentang perdamaian dunia. Namun sepertinya formula perdamaian tersebut belum ketemu.

Kalau kita perhatikan bahwa salah satu penyebab kekacauan dunia adalah faham demokrasi. Dengan alasan demokrasi seseorang begitu bebas berbuat. Dengan alasan demokrasi pula suatu negara seakan mendapat legalitas untuk mencampuri urusan negara lain bahkan menghancurkannya.

Sebagaimana yang umum di pahami bahwa paham demokrasi lahir di barat sebagai bentuk “protes” terhadap sistem pemerintahan monarki. Suatu sistem pemerintahan yang mengekang kebebasan rakyat untuk berbicara, berbuat dan mengekspesikan diri.

Jadi pondasi yang di jadikan landasan untuk membangun pemikiran demokrasi barat ( liberal ) adalah kebebasan. Sehingga tidak mengherankan kalau pemikiran tersebut membentuk mental manusia yang suka berbuat sekehendaknya sendiri.

Landasan berfikir tersebut sangatlah rapuh kalau tidak boleh di katakan salah. Karena pada hakikatnya manusia tidak bisa bebas semau – maunya. Dimanapun dan kapanpun ada aturan tertulis atau tidak tertulis yang harus di patuhinya.

Salah satu pendiri Nahdlotul Ulama, KH.Wahab Hasbulloh mengatakan : ” Esensi demokrasi adalah memanusiakan manusia dan mengaturnya agar pola hubungan manusia tersebut dapat saling menghormati perbedaan dan mampu bekerjasama sehingga menciptakan kesejahteraan bersama”.

Luar biasa apa yang Beliau ajarkan itu. Kalau kita cermati bahwa ajaran demokrasi itu di landaskan pada fitroh manusia sebagai makhluq sosial. Makhluq yang hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Ini landasan pemikiran yang derajat kebenarannya pasti absolut.

Manusia karena makhluq sosiak maka nalurinya otomatis mendorongnya untuk membangun buhungan yang saling menghargai, menghormati perbedaan, mengakui persamaan hak dan kewajiban, berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Karena hanya dengan pola hubungan seperti itu manusia dapat memenuhi tujuan dan kebutuhan hidupnya.

Demokrasi bukanlah kebebasan individu, tetapi bagaimana mengekang kebebasan itu untuk mematuhi aturan bersama. Demokrasi bukanlah kebebasan pilihan pribadi, tetapi bagaimana menerima pilihan bersama. Demokrasi bukanlah lembaga ekskutif, legislatif dan yudikatif tetapi mental ketiga lembaga tersebut untuk bekerjasama membangun negara. Demokrasi adalah penghargaan terhadap manusia dengan segala perbedaannya.

Demokrasi bukanlah formula untuk membangun hubungan antar individu saja, tetapi juga antar kelompok masyarakat bahkan antar negara. Tidak ada negara di dunia ini yang bisa hidup sendiri, tanpa membutuhkan negara lain. Negara maju sekalipun. Oleh karena itu harus di ikat dengan tali demokrasi supaya tercipta hubungan yang damai untuk mencapai tujuan bersama. Tidak boleh ada negara yang merasa lebih tinggi dari negara lain sehingga berbuat semena- mena.

Oleh karena itu penting sekali PBNU meng Go Internasionalkan ajaran demokrasi KH.Wahab Hasbulloh ini karena di butuhkan dunia internasional. Begitu juga penting bagi NKRI untuk menambah politik luar negerinya menjadi bebas, aktif dan demokratis.

Dari ulasan pendek tersebut dapat kita pahami bahwa demokrasi adalah keniscayaan yang tidak boleh hilang dari mental manusia untuk menciptakan keharmonisan kehidupan sosial. Penolakan terhadap demokrasi adalah penyimpangan dari fitroh mahkluq sosial (annas)

Sebagaimana atheis adalah penyimpangan dari fitroh mahkluq berketuhanan ( al insan). Begitu pula menolak nikah atau nikah sejenis adalah penyimpangan dari fitroh makhluq biologis ( al- Basyar). Semua penyimpangan itu pasti akan membawa manusia kepada kehancuran. Wallohu a’lamu bisshowab.

Penulis Taufiq Hasan.
Pengurus Ranting NU Desa Gembuk Kebonagung Pacitan

  • Bagikan