Mercon Banting Pesta PEN Subsektor Film

  • Bagikan

Isu skandal Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Subsektor Film bak letusan kecil di tengah pesta glamour api unggun perfilman.Penulis, Akhlis Suryapati
Kepala Sinematek Indonesia

Siaran press resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terbaru pada 9 Desember 2021 dengan menggunakan sumberdaya kehumasan yang dimiliki, menebar pesona kekuasaan melalui publikasi masif yang sekaligus melindas teriakan ketidakadilan yang disuarakan Kongres Peranserta Masyarakat Film.

Bancakan skema Promosi Film, Produksi Film Dokumenter Pendek dan Film Cerita Pendek, serta Pra-Produksi, berlangsung tanpa rikuh, tentu oleh mereka yang menjadi bagian dari pesta itu. Pada suasana seperti ini, terlihat bahwa virus ego sektoral yang mewabah di ekosistem perfilman nasional berhasil dipelihara oleh pemerintah –dari rezim ke rezim– melalui apa yang sering saya metaforakan sebagai ‘politik bagi-bagi permen dan fasilitasi belah bambu’.

Letusan kecil isu skandal PEN Subsektor Film itu seperti mercon banting (petasan) mainan anak-anak. Bikin kaget sejenak, namun tak terlalu digubris, apalagi sampai menghentikan pesta.

Anak-anak pemantik mercon itu akan kagok, tuding-tudingan sendiri, atau beringsut letih, ketika dibuzzer oleh sorak-sorai pesta, juga serangan balik layaknya sebuah isu skandal.
Ini semua adalah percikan dampak dari mewabahnya ego sektoral dalam masyarakat perfilman sepanjang dua dekade, dimulai sejak perfilman nasional bangkit kembali (tahun 2000) paska mati suri – berlanjut hingga menjelang tahun 2022 ini.

Wabah ego sektoral kiranya lebih awet dari virus Covid-19, dengan variannya yang juga bertingkat-tingkat. Kini menjelmakan sebuah kekuasaan (perfilman) yang melahirkan rasa ketidakadilan tanpa perlu merasa bersalah. Atau produk ketidakadilan itu dianggap sebagai kebenaran, karena menurut penguasa: “Tidak mungkin sebuah kebijakan menyenangkan semua pihak.” “Jadi kita biarkan seperti ini saja ya, Mas?” tanya beberapa orang, insan film juga, datang ke Pusat Perfilman H Usmar Ismail.

Mereka tentu saja tidak sedang ikut pesta. Sebagian yang sedang dibuzzer sebagai ‘kelompok sakit hati, barisan yang tidak kebagian, orang film yang kecewa’. Beberapa lainnya memberi semangat mengompori agar tak kendor memperjuangkan keadilan; melalui kata-kata dan postingan media sosial. Lainnya lagi sibuk berdiskursus ‘ngalor- ngidul’.

Fakta-fakta yang terasipkan di Sinematek Indonesia hari-hari ini adalah: Dalam masyarakat perfilman Indonesia ada kelompok-kelompok, ada pesta-pesta, ada sakit hati serta kecewa.

Tiga fakta itulah yang akan dijadikan pilar ekosistem perfilman dalam mengatasi kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19 melalui skema bantuan dalam program PEN Subsektor Film.

Ego Sektoral Perfilman

Ego sektoral sebagai istilah yang berkaitan dengan mental cerobong (silo mentality atau silo thingking), menunjuk pada pola pikir dan tindakan pada sektor atau bagian tertentu dengan pola membangun kelompok-kelompok demi mendapatkan keuntungan bagi kelompoknya seraya menyingkirkan yang bukan kelompoknya.

Virus ego sektoral yang dalam berbagai tinjauan dianggap sebagai sumber pemecah belah, sepanjang dua dekade hinggap di masyarakat perfilman, menjadi wabah, dan dipelihara oleh penguasa.

Virus ego sektoral muncul di awal kebangkitan kembali perfilman paska mati-suri (tahun 2000-an), waktu itu tersosialisasikan dikotomi; Pelaku Film Aktif dan Pelaku Film Pasif, Sineas Muda dan Sineas Tua, Generasi Baru Perfilman dan Kelompok Status Quo, serta berbagai istilah lainnya. Virus ego sektoral perfilman terus berbiak, pemerintah melalui kebijakannya memberlakukan politik ‘bagi-bagi permen dan belah bambu’.

  • Bagikan