oleh

Kewaspadaan Tidak Boleh Sirna

Pada pertengahan September 2020 para ahli kesehatan bangsa Inggris mulai mencium gelagat bahwa covid 19 ada gejala mutasi genetik. Kemudian pada pertengahan Desember 2020 setelah melakukan penelitian dan kajian ilmiah para ahli tersebut menyimpulkan mutasi genetik covid 19 benar adanya. Agar mudah membedakannya dengan virus lain diberi nama yaitu “Varian baru virus corona” atau SARS-COV-2 b,1,1.7.

Varian baru virus corona dapat disebut sebagai mutasi genetik yang secara teori bisa menyebabkan penularan virus lebih mudah diantara manusia. Sebuah versi mengatakan varian baru virus corona dapat melakukan 23 mutasi. Kemajuan teknologi informasi berita “varian baru virus corona” menyebar keseluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.

Bencana dunia bertambah lagi. Ancaman atas kehidupan manusia semakin kompleks. Ketakutan dan kegelisan manusia yang mulai mereda setelah vaksin covid 19 ada dan mulai diinjeksi secara bertahap, muncul lagi. Ekonomi dunia mulai menggeliat tertantang lagi. Rencana dimulai kegiatan belajar-mengajar di sekolah, dikaji ulang, dan lain-lain. Muncul pertanyaan, sampai kapankah semua ini berakhir? Jawabannya tidak bisa digeneralisir, karena terletak pada keseriusan masing-masing negara dan masyarakat menghadapinya.

Untuk mengantisipasi agar varian baru virus corona tidak masuk di Indonesia, maka pada tanggal 28 Desember 2020 dalam rapat Kabinet memutuskan : “Mulai tanggal 1 sampai 14 Januari 2021 untuk sementara Warga Negara Asing (WNA) tidak boleh masuk Indonesia.” Kalaupun ada WNA masuk Indonesia karena urusan penting dan mendesak harus dikarantinakan dan diawasi secara ketat.

Bahkan sejak tanggal 20 Desember 2020 lebih 40 negara larang penerbangan dari Inggris. Untuk cegah penyebaran varian baru virus korona, maka pada tanggal 28-12-2020 Jepang larang orang asing masuk negranya.
Konsekuensi dari kebijakan tersebut semua bandara udara, pelabuhan laut dan perbatasan darat dijaga ketat. Karena itu, kalau ada orang yang berencana ke luar negeri atau orang Indonesia yang ada di luar negeri pulang ke Indonesia perlu menyesuaikan atau menunda untuk sementara.

Keputusan ini sangat bijak sebagai bentuk kewaspadan negara untuk melindungi rakyat dari Varian baru virus corona. Apalagi jumlah yang terpapar covid 19 bulan Desember 2020 dan awal januari 2021 berkisar pada angka 6000 sampai 8000 an tiap hari. Bertambahnya yang terpapar covid 19 tiap hari, tentu semua pihak prihatin.

Prihatin dan Waspada

Keprihatinan hendaknya tidak dalam konotasi sedih, melainkan meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi varian baru virus corona. Kewaspadaan tidak boleh sirna. Jika kewaspadan sirna itu berarti menganggap covid 19 dan varian baru virus corona tidak berbahaya atau sebaliknya menyerah tanpa syarat. Memang, sulit dipungkiri setelah begelut menghadapi Covid-19 hampir 10 bulan rasa jenuh, panik, malas, dongkol, abai, acuh tak acuh sesuatu hal yang sulit dihindari.

Tiba-tiba muncul lagi jenis virus baru yang tidak kenal kompromi. Akan tetapi semua perasaan itu harus dapat dikesampingkan agar dapat lewat dari percobaan berat ini. Mengapa? Siapa yang kuat imun/daya tahan tubuh, mental, sabar, tabah, tenang, disiplin, berserah, patuh protokol kesehatan dan lain-lain, “itulah yang dapat bertahan hidup”. Kata bijak mengatakan : “Kepanikan adalah seperuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan (Ibnu Sina).

Negara hanya bisa menyediakan fasilitas seperti rumah sakit (rujukan), dokter, medis, obat, vaksin (mulai pertengahan januari 2021), bansos dan lain-lain, sementara pribadi masing-masing yang harus berjuang untuk membebaskan diri dari covid 19 dan/atau varian baru virus corona. Agar masyarakat ekonomi lemah tidak semakin terpuruk atas dampak covid-19, maka pemerintah mengalokasikan dana bansos dalam ABPN 2020, 2021 dan salah satu lembaga yang dipercayakan penyaluran bansos adalah Kemensos. Namun, sangat disayangkan sebagian bansos tesebut disalah gunakan oleh oknun.

Tujuan pemerintah memberi bansos kepada masyarakat ekonomi lemah yang kena dampak covid 19 terutama mereka yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sangat mulia, karena dapat meringankan biaya dan beban hidup. Namun, diluar dugaan oknun-oknum di Kementerian Sosial berpikir lain yaitu memperkaya diri sendiri melalui jalan pintas dan menari-nari di atas penderitaan orang banyak dengan mengambil yang bukan haknya.

Sungguh menyakitkan hati masyarakat. Tidak tahu malu. Kiranya hakim memberi hukuman setimpal dengan perbuatan mereka. Mudah-mudahan kasus seperti di Kemensos tidak ada di daerah. Silaturahmi Tetap Dipelihara

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed