Kegembiraan Itu Terusik Lagi

  • Bagikan
AA Gulo
Adrianus Aroziduhu Gulo. (Foto dok pribadi)

Sungguh serba susah menghadapi orang yang tidak acuh terhadap prokes, apalagi kalau orang tersebut tokoh, pejabat, orang kaya, dll. Diingatkan bisa-bisa dituduh anti kebebasan, mempermalukan, menghina, memprovokasi, sakit hati, tidak mendukung program dan lain sebagainya,

Sejak tanggal 21 oktober 2021 rasa gembira masyarakat kota Gunungsitoli mulai berbunga-bunga, sebab dari tanggal tersebut sampai tanggal 1 Februari 2022 tidak ada orang yang terpapar covid 19. Hal ini dapat diketahui pada laporan Satuan Tugas Penanganan Covid 19 Kota Gunungsitoli melalui Kepala Dinas Komuniksi Dan Informatika Kota Gunungsitoli.

Selama kurun waktu tersebut, kurang lebih tiga bulan sebelas hari tidak ada yang terpapar Covid 19. Tentu semua ini merupakan dampak kerja keras masyarakat menerapkan prokes dan kesadaran tinggi pentingnya divaksin.
Kondisi yang menggembirakan ini masyarakat kota Gunungsitoli mulai beraktifitas, walaupun kegiatannya tidak sebanding sebelum Covid 19 ada.

Namun, para petani mulai bekerja di kebun, para pedagang mulai memasarkan dagangannya, rumah ibadat mulai dibuka, sekolah mulai tatap muka dari hari senin sampai hari sabtu, pesta mulai meriah, transportasi udara/laut/darat mulai normal, dan lain-lain, sehingga perkonomian mulai menggeliat. Dan yang lebih penting lagi silaturahmi mulai lancar serta saling curiga satu dengan yang lain akan covid 19 semakin pudar.

Masyarakat menduga, covid 19 varian delta sudah habis masa ganasnya dan kenyang dengan korbannya yang berjumlah 2.251 orang positif, dengan rincian meninggal dunia = 57 orang dan sembuh 2.194 orang.

Penulis sendiri dan isteri termasuk korban keganasan covid 19 varian delta, namun atas berkat Tuhan setelah menjalani isolasi mandiri selama sepuluh hari dan makan obat secara teratur yang diberikan dokter kami dinyatakan negatif berdasarkan hasil swab test antigen tanggal 19 Agustus 2021.

Walaupun kami sudah sembuh, tidaklah berlebihan kalau penulis menyatakan bahwa rasa yang menonjol selama menjalani isolasi mandiri ialah “rasa gelisah”.

Dugaan masyarakat Kota Gunungsitoli meleset bahkan terkejut ketika ada informasi dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Gunungsitoli pada tanggal 2 Februari 2022 memberitakan ada 9 orang terpapar covid 19, kemudian tanggal 3 Februari =27 orang, tanggal 4 Februari = 25 orang, tanggal 5 Februari 22 = 26 orang, tanggal 6 Februari 22 (kosong- hari minggu, bisa jadi tidak ada pemeriksaan atau tidak ada yang datang ke Rumah Sakit). Lalu pada tanggal 7 Februari = 33 orang, tangggal 8 Februari 2022 = 2 orang, tanggal 9 Februari 22 = 11 orang.

Data Grafis Satgas Covid-19 Provinsi Sumut.

Tidak dapat dipungkiri dengan data yang disampaikan Satuan Tugas Penanganan Govid 19 kota Gunungsitoli beberapa hari terakhir ini, kegembiraan masyarakat kota Guunungsitoli yang berbunga-bunga, mulai terusik, pudar bahkan sirna.

Galakkan Prokes

Penulis mohon maaf kepada pembaca artikel ini karena tidak menyatakan secara resmi Covid-19 varian apa yang sedang mencari mangsa di kota Gunungsitoli, apakah Covid-19 varian delta atau Covid-19 varian omicron (varian baru dan lebih cepat menular dibanding varian delta). Biarlah orang yang kompeten menyatakan varian jenis apa yang sedang mewabah di kota Gunungsitoli.

Menurut penulis jenis apa yang sedang mengganas di kota Gunungsitoli tidak penting, yang penting adalah bagaimana masyarakat menghadapinya dengan menggalakkan kembali prokes yang beberapa bulan terakhir ini diabaikan.

Pada bulan Januari 2022 penulis dua kali hadir pada pesta perkawinan, saat itu penulis memperhatikan bahwa peserta persta perkawinan 80 persen tidak memakai masker, tempat duduk sangat dekat, tidak ada cuci tangan atau tidak tersedia hand sanitizer antiseptic.

Kemudia alat idak ukur suhu badaan pun tak ada. Bahkan ada peserta pesta salam-salaman dan peluk-pelukan. Secara psikologis bisa dipahami melepas rindu sudah lama tidak bertemu, dan lebih dalam lagi Tuhan telah menolong selama tahun 2021 hingga sampai Januari 2022.

Namun, masalahnya ialah gerakan-gerakan tersebut memberi peluang kepada Covid-19 untuk melancarkan serangan mautnya. Maka pemerintah mengharapkan kepada masyarakat untuk menerapkan 5 M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, Menjauhi kerumunan dan Membatasi mobilitas dan interaksi).

  • Bagikan