Idealnya Tim Sukses Mengingatkan

  • Bagikan

Pada hari Senin tanggal 26 April 2021 Gubernur Sumatera Utara melantik 8 (delapan) Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah di wilayah Provinsi Sumatera Utara, dari jumlah yang dilantik tersebut 4 (empat) Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah berasal dari Kepulauan Nias yaitu : Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kota Gunungsitoli. Untuk itu diucapkan “Selamat bertugas”. Sedangkan Kabupaten Nias belum karena masa periode Bupati-Wakil Bupati sekarang baru akan berakhir pada bulan Juni 2021.

Tidak bisa dipungkiri untuk sampai pada acara pelantikan Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah melewati proses perjuangan keras dan melelahkan bahkan menggelisahkan karena persaingan ketat antar para  Balon Kada misalnya mencari :  Pasangan yang se-Visi, dukungan Partai Politik sekurang-kurangnya 20%, dukungan KTP bagi calon independen sekian persen dari jumlah penduduk, lembaga survei untuk mengetahui elektabilias, dan lain-lain. Kalau persyaratan primer sudah terpenuhi baru mendaftar pada KPUD. Apakah persoalan sudah selesai? Belum. Bahkan tambah rumit dan kompleks. 

Setelah mendaftar dan ditetapkan KPU sebagai calon Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah masih banyak yang harus dipersiapkan seperti : Menyusun Visi-Misi, bentuk tim sukses dan  menetapkan posko pemenangan tingkat kabupaten/kecamatan/desa,  menyiapkan dana dan/atau mencari donatur, menatar tim kampanye dan saksi TPS/PPK/KPU, membuat kesepakatan dengan beberapa lembaga, berjanji memberikan honor/insentif kepada rohanaiwan, janji bangun ini-itu, dan lain-lain. “Kerumitan inilah membuat beberapa orang yang berintegritas mengurungkan niat untuk mencalonkan diri”. Apalagi kalau uang mereka pas-pasan dan tidak mau membuat kesepakatan kepada cukong.  

Para cukong atau bahasa halusnya donatur tidak semua punya niat baik untuk membangun daerah, bahkan sebaliknya ingin menguasai sumber daya alam daerah yang Kepala Daerahnya telah dibantunya saat Pilkada, sebagaimana dinyatakan oleh bapak Jusuf Kalla sebagai berikut: “Yang membeli tanah-tanah itu juga orang yang membantu mereka dulu”

Akhirnya saat mereka terpilih, tak jarang mereka memudahkan insvestasi para penyokongnya tersebut. Hal ini lebih berbahaya daripada korupsi. (Baca detiknews rabu,10 Februari 2016 pukul 14.46 WIB). Walaupun demikian tidak boleh digeneralisir, saya mengakui ada donatur yang berhati mulia dan membangun daerah tanpa pamrih sebagaimana  penulis alami saat Pilkada tahun 2011.

Temani Sampai Habis Periode Jabatan

Saat pelantikan Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah tersebut di atas, saya membaca di media sosial ada beberapa orang tim sukses yang kecewa, karena tidak diundang dan ikut ke Medan. Tentu hal ini menjadi pembelajaran bagi Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah dalam membina dan memelihara hubungan baik dan solid dengan tim sukses.

Mengapa? Selain kepopuleran dan uang cukup para Cakada saat pilkada, juga, peran tim sukses sangat menentukan  kemenangan. Berdasarkan pengamatan penulis  bahwa  banyak Cakada gagal karena tim sukses tidak militan dan solid. Karena itu Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah hendaknya memperlakukan  tim sukses secara adil dan proporsional, sedangkan  para tim sukses  tidak terlalu banyak menuntut, apalagi “fabalo” atau ngambek. 

Salah satu fungsi tim sukses adalah bertugas mensosialisasikan Visi-misi, program yang akan dijalankan oleh pasangan calon. Fungsi ini tidak hanya saat kampanye, melainkan diteruskan setelah terpilih, dilantik dan selama masa periode. Tugas ini berat, namun inilah tanggung jawab hukum dan moral tim sukses.

Tim sukses bertanggung jawab secara moral kepada masyarakat atas visi, misi, program dan janji-janji yang pernah disampaikan saat kampanye. Tugas tim sukses bukan fabalo (ngambek), menjelekkan, mengintimidasi, marah-marah dan lain-lain. Kalau itu terjadi masyarakat akan berkata : Oh, bapak ini seperti sumbu pendek, rupanya ada tujuannya. Selanjutnya mereka akan tertawa terbahak-bahak, hahaha.

Bukan menggurui, akan tetapi sebagai bahan masukkan untuk dipertimbangkan oleh orang yang merasa tim suskses Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah yang telah dilantik yaitu : Hendaknya tidak lepas tanggung jawab melainkan dampingi, temani dan ingatkan mereka beberapa hal sebagai berikut: (1) Memperbaiki segala kekurangan yang dikritik selama kampanye misalnya kurang daya listrik, segera ditambah daya listrik. (2) Wujudkan Visi-misi dan slogan misalnya berdaya, jangan diperdaya. (3) Realisasikan program unggulan misalnya kekurangan air bersih, cari sumber air bersih. (4) Tingkatkan kesejahteraan rakyat misalnya pertumbuhan ekonomi hanya 5 %, tingkatkan menjadi 8 %.

(5) Tingkatkan IPM, dengan meningkatkan mutu sekolah terutama TK dan PAUD. (6) Tempatkan ASN pada jabatan sesuai kompetensi, bukan nepotisme. (7) Sesuaikan pengeluaran dengan pendapatan agar tidak defisit. (8) Upayakan biaya langsung (pembangunan) lebih besar daripada biaya tidak langsung (gaji ASN, honor DPRD dan biaya operasional). (9) Kurangi dinas luar daerah yang tidak urgen, (10) Kurangi pesta yang menghamburkan uang daerah, dan lain-lain.

Kalau tim sukses tidak berani mengingat beberapa hal di atas kepada Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah, bisa saja karena kesibukan atau faktor lain mereka lupa atau sekurang-kurangnya tidak memprioritaskan. Apabila hal ini terjadi kepercayaan masyarakat menurun, tidak hanya kepada Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah, juga, kepada ketua tim sukses dan anggotanya. Dampaknya pembangunan di daerah terhambat. Mengapa? Karena masyarakat sudah mulai tidak percaya, apatis, pasif dan lain-lain, Sehingga kalau ada pembangunan seperti pelebaran jalan, pembukaan jalan baru, gedung sekolah dan lain-lain, mereka tidak mau menghibahkan tanah.      

Malah masyarakat  mencipatakan istilah sebagai bahan diskusi seperti : Abee gae nano okafu (pisang keras kalau sudah dingin), hufa-hufa, hofi-hofi, afuriata hofo (awal ramai-ramai, sanjung-sanjung, akhirnya telan/makan sendiri), auri ami ba auri goi ndrao (kalian hidup akupun hidup), air mata buaya, sabar masih ada tahun depan, menangis tidak menyelesaikan masalah, omongannya kayak parfum, dan lain-lain. Bahka slogan saat kampanye dipelesetkan seperti berdaya menjadi diperdaya, tulus berbakti menjadi mikir surga saja, damai menjadi kamu dapat akupun dapat, dan lain-lain.

Fenomena masyarakat ini perlu respon positif  dari tim sukses agar tidak terjadi polarisasi yang pada akhirnya menghambat visi, misi dan progam Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah yang  sudah dituangkan  dalam Perda RPJMD menjadi kenyataan. Polarisasi dalam masyarakat dapat diminimalkan kalau tim sukses orientasinya “tidak pada apa yang didapat dari Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah, melainkan apa yang didapat oleh masyarakat”.

Sesungguhnya menjadi ketua dan anggota tim sukses itu berat, karena tiap hari bisa bertemu masyarakat dan masyarakat menagih janji. Karena itu, pikir matang jika mau menjadi tim sukses, agar tidak ada penyesalan dikemudain hari. Apalagi kalau penyesalannya itu hanya karena tidak diundang pada pelantikan, syukuran atau didasari kepentingan sesaat seperti  tidak dapat proyek, famili tidak dapat jabatan strategis, aspirasi tidak diakomodir, dan lain-lain.  

Tidak berlebihan kalau menitip pesan sekaligus harapan Kepada Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah agar memperhatikan semua tim sukses secara adil dan proporsional, bukan “habis manis sepah dibuang”. Penulis yakin kalau Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah dengan tim sukses saling mengingatkan dan tetap solid, maka visi, misi, progam bisa terwujud yang pada akhirnya kesejahteraan masyarakat meningkat. Kalau orang lain bisa, andapun harus bisa. Salam sehat.

Adrianus Aroziduhu Gulo.

  • Bagikan