AA Gulo: Mengapa Jarang Kelihatan?

  • Bagikan
AA Gulo
Adrianus Aroziduhu Gulo (Foto dok pribadi)

Masalahnya bukan pada sangat hati hati atau tidak hati-hati, serius atau tidak serius, penakut atau tidak penakut, melainkan terletak pada penghargaan atas “kesehatan dan kehidupan”

Mengapa? Orang yang sangat hati-hati, waspada, disiplin saja belum tentu tidak terpapar covid-19, apalagi orang yang tidak hati-hati dan waspada peluang untuk terpapar terbuka lebar. Sikap kehati-hatian, waspada, disiplin dan lain-lain, sifatnya hanya membatasi ruang gerak covid 19, sedangkan sikap sebaliknya seperti tidak mengakui keberadaan covid 19. Padahal covid 19 adalah “nyata bukan mimpi” dan sudah banyak nyawa melayang.

Bahkan hari-hari terakhir ini di seluruh Indonesia semakin banyak yang terpapar covid 19, contoh tanggal 6-1-21 terpapar 8.854 0rang, tanggal 7-1-21 terpapar 9.221 orang, tanggal 8-1-21 terpapar 10.617 orang (rekor tertinggi saat tulisan ini) tanggal 9-1-21 terpapar 10.046 orang, tanggal 10-1-21 terpapar 9.640 orang, tanggal 11-1-21 terpapar 8.692 orang, dan jumlah meninggal seluruh Indonesia sampai tanggal 11-1-2021 sebanyak 24.343 orang (Liputan 6 tanggal 11-1-20 pukup 15.43 WIB).

Kemudian tidak hanya di kota-kota besar di kota kecil pun banyak yang terpapar covid 19 seperti kota Gunungsitoli Provinsi Sumatera Utara sampai tanggal 10-1-21 sudah terpapar sebanyak 621 orang dan meninggal sebanyak 16 orang, hal ini sesuai informasi dari Kadis Komunikasi dan Informatika Kota Gunungsitoli tanggal 10 Januari 2021.

Jumlah ini cukup banyak bila dibanding dengan luas kota dan jumlah penduduk kota Gunungsitoli yang berjumlah 142.426orang. Berdasarkan data di atas covid 19 “nyata” dan semakin ganas menyerang manusia tanpa pilih bulu, belum lagi kalau varian baru virus corona masuk indonesia, tentu semakin mengkhawatikan.

Untuk itu setiap orang harus menjadi bagian dari solusi mencegah penularan covid 19 atau virus lain. Artinya setiap orang menjaga diri agar tidak terpapar covid 19 dan setiap orang berupaya tidak menularkan covid 19 kepada orang lain. Hidup ini indah jika saling menjaga.

Hal ini dapat terwujud kalau setiap orang menerapkan 3 M dan pihak otoritas meningkatkan 3T atau sekurang-kurangnya covid 19 dan virus lain bisa dilokalisir. Covid-19 hanya bisa dilawan secara bersama-sama dengan menerapkan 3M dan 3T serta siap diinjeksi vaksin yang akan disediakan secara gratis oleh pemerintah.

Kalau bukan kita melawan covid 19, siapa lagi. Kalau kita menunggu orang lain menerapkan 3 M akan terlambat. Kalau kita terlambat atau abai, kesehatan bahkan nyawa taruhannya.
Dengan kondisi di atas, pertanyaan saat bertemu teman, kerabat, sahabat, famili bukan lagi mengapa jarang kelihatan, melainkan mengapa bapak lupa mengenakan masker. Perlu keberanian untuk mengingatkan, kendatipun resikonya diomeli/dimarahi. Bagi yang diingatkan sebaiknya lapang dada dan berteima kasih. Itu semua demi kesehatan dan kelangsungan hidup bersama.

Kata bijak mengatakan, orang cerdas dinasehati/diingatkan bahkan dikritik, ia berterima kasih. Sedangkan orang bodoh dinasehati/diingatkan/dikritik, ia justru marah.

Dalam kesempatan ini juga saya mengucapkan turut berduka cita kepada semua korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air-182, kira Tuhan Yang Maha Pengasih membuka pintu maaf dan menerima mereka disisi-Nya serta semua keluarga korban diberi ketabahan. Salam sehat.

Adrianus Aroziduhu Gulo

  • Bagikan