AA Gulo : Belum Ada Perubahan Mendalam

  • Bagikan

Uang sebesar itu, baru biaya pesta di tempat pempelai perempuan. Biasanya pihak laki-laki mengadakan pesta jika pempelai peremuan sudah tiba di rumahnya , tentu biaya tambah lagi.

Memang angka di atas kalau dibandingkan pada salah satu ori yaitu: “mahar Ori Moroo” menurut “bosi” (strata) dan standar perhitungan memakai alisi babi tergolong rendah. Contoh,
(1) Bosi si-8 berjumlah = 88,5 x 4 alisi babi.
(2) Bosi-9 berjumlah = 109 x 4 alisi babi.
(3) Bosi s-10 berjumlah 116 x 4 alsi babi.
(4) Bosi si-12 berjulah 213,5 x 4 alisi babi.

Kalau perhitungan mahar menggunakan standar emas, lebih besar lagi. (lihat pada buku berjudul BOWO Dalam Perkawinan Adat Ori Moroo Nias Barat, tulisan Postinus Gulo OSC halaman 129 s/d 140).

Sekarang harga babi yang ukurannya 4 alisi babi sekitar Rp. 2.000.000 (itupun kalau ada), maka mahar tiap bosi jika diuangkan menjadi;
(1) Bosi si-8 menjadi : 88,5 x 4alisi x 2.000.000 = 177.000.000.-
(2) Bosi si-9 menjadi : 109 x 4 alisi x 2.000.000 = 218.000.000.-
(3) Bosi si-10 menjadi : 116 x 4 alisi x 2.000.000 = 236.000.000.-
(4) Bosi si-12 menjadi 213,5 x 4 alisi x 2.000.000 = 427.000.000.

Pesoalan mendasar bukan pada angka, melainkan seberapa banyak pengantin laki-laki yang sanggup memenuhi biaya pesta tanpa pinjam kepada orang lain? Kalau uang sendiri tidak ada masalah.

Bukan Bahagia yang Dapat

Penulis yakin bahwa semua pihak sepakat “adat” perlu dilestarikan sebagai ciri kepribadian. Semua nama-nama “mahar dipertahankan dan disebutkan”, hanya besarannya disederhanakan. Misalnya, jumlah dan berat daging rahang dan kepala babi dikurangi. Contoh, rencana jumlah rahang/kepala 20 buah menjadi 10 buah, berat 20 kilo menjadi 10 kilo.

Apabila dikonversi dengan uang, isi amplop dulu sebesar Rp. 2.000.000 menjadi Rp. 1.000.000, undangan 500 orang menjadi 250 orang, gedung dan dekorasi sederhana, pakaian disewa, dan lain-lain.

Jarang orang tua pengantin laki-laki orang the have atau pengantin laki-laki mapan dan berpenghasilan besar tiap bulan. Penyederhanaan beberapa item pada mahar, harga diri seseorang tidak menjadi rendah, malah menjadi contoh bagi orang banyak. Harga diri dengan gengsi tidak sama. Harga diri melihat ke depan, sedangkan gengsi orientasi pujian sesaat.

Mempertahankan harga diri tidak dengan pesta besar-besaran, melainkan bagaimna cara orangtua agar anaknya yang membentuk keluarga dapat sejahtera dan mandiri. Memenuhi mahar yang diminta pihak orang tua pengantin perempuan, sering pihak orang tua atau pengantin laki-laki membuat jula-jula, pinjam uang teman (kadang rentenir), pinjam uang bank, gadaikan kebun dan lain-lain.

Kadang, pinjaman kepada rentenir bunga bulan ini, bisa menjadi pokok bulan depan. Gadaikan kebun, jika jatuh tempo dan tidak bisa dibayar akan disita dan seterusnya. Apabila disita kebunnya, apa tidak malu? Kalau ia petani apa sumber pencaharianya lagi

Akhirnya keluarga baru tersebut sampai kapan pun tidak mampu membangun rumah, menyekolahkan anak, rekreasi, menolong saudara dan lain-lain. Dengan kondisi ini, apakah keluarga dari kedua belah pihak tidak malu?

Untuk itu jangan hanya karena mempertahankan gengsi anak menjadi miskin. Sudah menjadi rahasia umum, orang miskin kadang tidak dihargai. Inilah persoalan yang sangat mendalam dan solusinya harus dicari bersama. Bahkan pernah penulis saksikan sendiri, ada seorang bapak sampai punya cucu belum lunas utang saat ia pesta perkawinannya dulu. Bisa jadi utangnya itu diwariskan kepada anak dan cucunya.

Mengapa? Utang seseorang tidak hapus karena kematian. Bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan penderitaan akibat besar mahar. Sangat memperihatikan.

Padahal dasar perkawinan dalam UU nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 1 menyatakan : Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

Kalau dililit utang, lalu dimana bahagianya?
Demikianlah tulisan ini dapat menjadi pengungkit dan bahan diskusi tentang bagaimana menyederhanakan biaya pesta perkawinanan di Nias agar tidak menciptakan kemiskinan baru. Ruang dan waktu sudah disediakan dengan datangnya ASF dan covid 19. Rohaniwan mengatakan: “Tuhan dapat mengingatkan dan menegur manusia lewat tanda-tanda alam”.

Salam sehat
Adrianus Aroziduhu Gulo

  • Bagikan