oleh

AA Gulo : Belum Ada Perubahan Mendalam

Sekitar November 2019 wabah kolera dan demam babi Afrika atau disebut ASF (African Swine Fever) menjadi biang keladi matinya ribuan ekor babi di 11 kabupaten/kota Provinsi Sumatera utara seperti di Dairi, Hubang Hasududan, Toba Samosir dan lain-lain.

Dan… virus ASF alias flu babi itu mendarat di pulau Nias yang menyebabkan kematian ribuan babi secara mendadak. Contoh, Mei 2020 tercatat angka kematian babi sebanyak 16.060 ekor (REPUBLIKA 26 Juni 2020).

Kematian babi di pulau Nias sangat terasa dari berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama dari segi ekonomi. Sebab salah satu mata pencaharian masyarakat Nias adalah ternak babi. Namun dalam artikel ini penulis hanya menyampaikan sekilas dampak kematian babi dari segi pesta adat perkawinan di Nias, terutama pesta perkawinan warga kristen.

Mengapa ? Salah satu ciri pesta adat adalah potong babi. Adagium mengatakan adat perkawinan di Nias kurang sah kalau tidak ada babi, terutama simbi (rahang) dan hogo (kepala) babi. Menurut adat Nias “rahang dan kepala babi merupakan simbol penghormatan tertinggi kepada tamu tertentu, misalnya, Uwu (paman/saudara laki-laki dari ibu pengantin perempuan), tome (pihak pengantin pria), ngaoto nuwu (paman dari ibu pengantin perempuan), tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemerintah, besan, teman sekantor, sahabat dan lain-lain. Jumlah rahang dan kepala pada saat pesta perkawinan antara 8 sampai 60 tergantung dari kemampuan dan relasi orang yang pesta.

Pada umumnya “simbi” (rahang) dihidangkan kepada tamu terhormat pada wilayah Nias Timur, Nias Utara dan Nias Barat, sedangkan “hogo”(kepala) untuk wilayah Nias selatan, walaupun sekarang sudah terjadi asimilasi. Sejak masuknya ASF dan saat covid-19 di pulau Nias, babi sangat langka, kalaupun dapat harganya selangit. Saat pesta adat perkawinan yang menjadi lauk pauk para undangan dibuat dari daging atau telur ayam.

Berhubung babi sangat langka, maka penghargaan rahang dan kepala babi kepada orang yang dihormati dikonversi dalam bentuk uang yang sudah dimasukkan dalam amplop. Besarnya uang dalam tiap amplop bebeda-beda, mulai dari Rp. 250.000 – 2.000.000. Amplop yang isinya paling besar diberikan kepada uwu dan tome, tokoh adat dan seterusnya.

Jumlah amplop antara 8 sampai 60 buah tergantung kemampuan dan relasi yang punya pesta. Sampai sekarang untuk sementara lancar, karena semua pihak sudah saling memahami.

Perubahan Pada Casing

Untuk menyamakan pemahaman dalam artikel ini penulis tidak membahas besarnya “bowo” (mas kawin, jujuran, mahar) menurut “bosi” (strata adat). Hal ini, selain sangat luas, juga, berbeda-beda besarnya menurut “ori” (Sub-etnik, suatu wilayah yang terdiri dari beberapa perkampungan).

Setiap “ori” memiliki keunikan dengan “ori” lainnya. Penulis hanya mencoba mengajukan pertanyaan refleksif yaitu, apakah konversi rahang dan kepala babi dengan uang yang sudah dimasukkan dalam amplop ada dampak signinikan pada biaya pesta adat perkawimanan?

Menurut pengamatan penulis, kelihatannya belum ada dampak yang signifikan. Mengapa ? Sebelum ada penyakit babi di Nias ada 4 (empat) tingkat besaran uang jujuan/mahar/biaya pesta perkawinan di Nias atau sekurang-kurangnya di sekitar kota Gunungsitoli yaitu:

  1. Dari Rp. 30-60 juta,
  2. Dari Rp. 60-100 juta,
  3. Dari Rp. 100–150 juta.
  4. Dari Rp. 150-200 juta.

Sekarang, sesudah dilanda penyakit babi dan pandemi Covid-19 biaya pesta adat perkawinan hampir sama. Bahkan pernah penulis dengar ada pihak orang tua pengantin wanita meminta biaya pesta kepada pihak orang tua pria sebesar Rp. 300.000 juta. Dampak perubahannya hanya pada casing.

Artinya, dari rahang dan kepala babi dikonversi dengan uang. Pada umumnya, saat ini dalam menetapkan besarnya biaya pesta perkawinan orang tua/wali perempuan dengan orang tua/wali laki-laki, kadang tidak dihitung berdasarkan bosi (strata adat) melainkan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah.

Kecantikan dan pendidikan calon menantu perempuan seperti tamat : SLTA, D3, S1, S2, dokter, apalagi kalau sudan ASN dapat memengaruhi besaran biaya pesta.

loading...

News Feed