oleh

Begini Cerita Dubes RI di Arab Saudi Proses Pembebasan TKW Dari Hukuman Mati

BERITA9, JAKARTA – Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi menceritakan betapa sulitnya membebaskan tenaga kerja wanita asal Indonesia yang terancam hukuman mati karena kasus pembunuhan.

Agus mengatakan, proses pembebasan berlangsung sangat alot karena pihak keluarga Faisal ingin Etty mendapat hukuman mati atau qisas.

Hingga akhirnya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Majalengka, Jawa Barat, Etty Toyyib yang telah bebas dari hukuman mati di dijadwalkan tiba di Jakarta pada Senin (6/7/2020) pukul 16.05 WIB.

Baca Juga : Ketum PBNU Apresiasi Donasi Warga NU Bebaskan TKW Dari Hukuman Mati di Arab Saudi

“Etty Toyyib Anwar, WNI asal Majalengka yang selamat dari hukuman mati dijadwalkan akan tiba di Jakarta sore ini pukul 16.05,” kata Agus melalui keterangan tertulis, Senin (6/7/2020).

Demi mempercepat proses pemulangan Etty Toyyib, Agus Maftuh menemui penasehat Raja Salman bin Abdul Aziz Al-saud yakni Pangeran Khalid al-Faisal Al Saud yang juga menjabat Gubernur Mekkah.

Pertemuan itu dilakukan pada Senin 10 Februari 2020 didampingi Koordinator Perlindungan WNI KBRI Riyadh, Raden Arief dan atase hukum Rinaldi Umar. Pertemuan berlangsung di kantor Pangeran Khalid al-Faisal di Jeddah.

Agus mengatakan, Etty bebas dari hukuman mati setelah didakwa membunuh majikannya Faisal al-Ghamdi pada 2001 lalu.

Etty bebas setelah membayar diyat tebusan 4 juta riyal atau Rp 15,5 miliar dan menjalani hukuman penjara 20 tahun.

Uang diyat tebusan juga sudah disampaikan ke keluarga korban tepatnya satu tahun yang lalu.

“Delapan belas tahun berikutnya dengan melewati negosiasi yang panjang dan alot, keluarga majikan bersedia memaafkan dengan meminta diyat tebusan,” ujarnya.

Agus menjelaskan, uang diyat tersebut didapati dari sumbangan dari berbagai pihak di Indonesia.

Di antaranya, Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama yang telah memberikan sumbangan sebesar Rp 12,5 milyar atau 80 persen dari jumlah diyat tebusan.

Serta pihak lain dermawan santri, kalangan pengusaha, birokrat, politisi, akademisi, masyarakat Jawa Barat dan komunitas filantropi. Dana dikumpulkan selama 7 bulan. Ia pun mengapresiasi semua penyumbang uang diyat tersebut. (*)

loading...

News Feed