Nias Barat Berdaya, Faduhusi ; Pengabdian Separuh Umur & Melongok Komunitas Muslim Ditepi Samudera Hindia (Bag 2)

  • Bagikan
Banner Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara (foto scs redaksi)

BERITA9, JAKARTA – Asyik ngobrol dengan sahabat setia, tak terasa sudah larut malam, saat mau istirahat handphone jadul ku berdering, oh ternyata short messages service (sms) alias pesan pendek dari Bupati Nias Barat Faduhusi Daeli akan menerima saya dirumah dinas jam 06.30 pagi. Ku jawab Siap Pak… Selesai balas sms, kulihat jam di HP, bah ternyata cuman tersisa 3 jam waktu buat kami istirahat. Secepat kilat ku stel alarm di dua buah handphone pukul 4.30 dengan volume full dan kami taruh di dekat telinga supaya bisa bangun, maklum kami gak mau sampai alpa menjalankan shalat subuh.

Kring!!!Kring!!!Kring!!! Alarm berbunyi keras banget, sambil keleyengan kepala pusing, saya pun bangun, ku biarkan alarm tetap menyala anggaplah sebagai musik penghangat dinginnya fajar. Alhamdulillah kami bisa jalankan shalat subuh, walaupun awalnya agak bingung dengan arah kiblat, untunglah ada aplikasi khusus yang mengarahkan kiblat. Kebelakang dikit, waktu menjalankan shalat Maghrib dan Isya, kami laksanakan dirumah makan muslim, so… tiba di hotel kami malah enggak tahu arah kiblat karena enggak ada petunjuk sama sekali. Tetapi kami mahfum alias maklum kok.

Baca : Nias Barat ‘Berdaya’ Ditengah Ketidakberdayaan (Bag 1)

Sekira pukul 5.30 kami pun bersiap meninggalkan hotel menuju rumah dinas Bupati. Saat sedang memanaskan mobil, seorang petugas hotel menghampiri saya, menanyakan apakah kami mau sarapan pagi. Secepat kilat saya menjawab, “Enggak bang, makasih,” tapi si petugas bilang, “Halal kok pak, cuman nasi goreng pakai telur sama teh manis,” kata si petugas. Tapi saya tetap menjawab “Enggak bang, makasih yah, saya sedang buru-buru,” Akhirnya si petugas hotel ngeloyor pergi. Kami pun secepat petir mabur nuju pendopo Bupati. (Note : kalau ada diantara pembaca bertanya, nasi goreng pakai telur yang ditawarkan petugas hotel kan halal, kenapa saya tolak? Maka saya akan jawab “Hubungi saya lewat WhatsApps atau sms pasti saya kasih tahu jawabannya,” kalau saya terangkan disini, enggak enak hatilah, nanti disangka apa lagi….)

Ok kita tinggalkan nasgor pake telor…. Perlahan tapi pasti, kami meluncur ke lokasi pertemuan. Tepat pukul 06.00 WIB saya and the genk sudah tiba dirumah dinas Bupati. Sambil menunggu dipersilakan masuk, tim saya ngobrol dengan anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang berjaga. Sedangkan saya masih berdiam diri di dalam mobil sambil menikmati lagu Nias berjudul Ama dari Tugela Trio (sumpah deh, padahal enggak ngerti artinya, tapi syair sama lirik enak dikuping) Baru tiga menit, ajudan Bupati keluar menghampiri dan mengajak saya masuk. Setiba didalam, saya dipersilakan duduk di kursi ukiran jati khas Jepara. Kurang dari semenit, Bupati Nias Barat Faduhusi Daeli pun menghampiri saya. Kami bersalaman dan bercipika cipiki ala pesantren.

Dari Guru Menjadi Bupati

Kami pun terlibat pembicaraan hangat, diselingi secangkir teh manis. “Silakan Pak Haji diminum teh-nya, dijamin bersih dan halal,” kata Bupati seolah menebak isi hati ku yang paling dalam (cieeeelah lebay banget yak ane).

Asyik ngeteh bareng, Bupati Faduhusi bercerita karier politiknya. Waktu jaman old, karir dimulai menjadi guru ditahun 1975 disebuah sekolah dasar negeri di Nias Selatan hingga tahun 1983 dia diangkat menjadi kepala sekolah. Hampir tiga perempat karirnya sebagai pegawai negeri sipil, dihabiskan Faduhusi di Nias Selatan. Mulai dari guru, kepala sekolah, kemudian tahun 1994 diangkat menjadi Pengawas TK/SD Kecamatan Telukdalam.

Lalu diangkat jadi Kepala Seksi Pendidikan Dasar -saat itu masih bernama- Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Nias, 1999, bergeser lagi jadi Kasubbid Pengkajian TTG – BPM Nias, 2001. Sampai tahun 2005 dipercaya menjadi pelaksana harian Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Selatan sampai akhirnya ditetapkan sebagai Kepala Dinas pada tahun 2006. Karir pegawainya semakin moncer dibuktikan dengan pengangkatannya sebagai pelaksana tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Selatan di lanjut menjabat Inspektur Kabupaten Nias Selatan di tahun 2012.

Sebelum menjabat Bupati Nias Barat saat ini, Faduhusi adalah orang pertama yang diangkat sebagai pelaksana tugas Bupati pada saat peresmian Nias Barat menjadi daerah otonomi baru (DOB), Selasa (26/05/2009) oleh –saat itu– Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Setelah 18 bulan merasakan kursi sementara Bupati, Faduhusi mengundurkan diri dan ikut bertarung sebagai peserta pemilihan bupati yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di kabupaten pecahan Kabupaten Nias itu.

Namun sayang, asa baik ternyata belum berpihak, Pilbup yang digelar 2 Februari 2011, Faduhusi yang berpasangan dengan Sinar Abdi Gulö serta pasangan Yupiter Gulö-Raradödö Daeli harus mengakui keunggulan Adrianus Aroziduhu Gulö dan Hermit Hia yang memenangkan Pilkada pertama di tano niha itu. Adrianus dan Hermit akhirnya dilantik oleh Gubernur Sumatera Utara sebagai Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat secara definitif untuk priode 2011-2016.

Pilkada 2016, Faduhusi memulai peruntungan maju kembali sebagai peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat. Berpasangan dengan Khenoki Waruwu sebagai wakilnya, ternyata bintang kejora berpihak pada ayah 5 orang anak itu. Pasangan Faduhusi-Khenoki memenangkan pesta demokrasi sebagai Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat untuk masa jabatan 2016-2021. Dan sekarang tahun 2018 itu artinya kakek 3 orang cucu itu telah 2 tahun menduduki kursi orang pertama di daerah dengan slogan Nias Barat Berdaya ; Religius, Ramah dan Bersahabat.

Menukil data dari wikipedia, hasil survei kependudukan tahun 2015, Nias Barat memiliki populasi penduduk 127.120 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan dan 110 desa. Luas wilayahnya mencapai 544,09 kilometer persegi. Sekarang saya menyontek data dari website Pemkab, topografi wilayah Kabupaten Nias Barat berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan dengan ketinggian dari permukaan laut bervariasi, mulai 0-800 meter. Lahan tersedia terdiri dataran rendah sampai tanah bergelombang mencapai 48 persen, jenis tanah bergelombang sampai berbukit-bukit 35 persen dan dari berbukit sampai pegunungan 16 persen dari keseluruhan luas daratan. Dengan kondisi topografi yang demikian banyak jalan Kabupaten Nias Barat yang berbelok-belok. disebabkan kota-kota utama di Kabupaten Nias Barat umumnya terletak di lahan perbukitan.

Komunitas Muslim

Usai ngobrol ngalor sama ngidul sambil menyeruput teh dua cangkir (nambah dong…) Bupati mengajak saya dan tim menuju Kecamatan Sirombu. “Nanti kita sarapan di Sirombu Pak Haji, kita makan hasil laut,” kata Faduhusi. Menunggangi mobil dinas yang diisi Bupati, saya, andang, ajudan plus supir, mulai bergerak ke Kecamatan Sirombu (eeh lupa, si yudi alias dani supir dari bandara enggak ikut, mumpung di Nias Barat katanya sekalian mudik, minta dikontak kalau saya mau balik ke bandara Binaka)

Sepanjang perjalanan, Bupati menerangkan beberapa wilayah yang kami lalui. Selama mata memandang, wilayah menuju Sirombu dikuasai lahan pertanian dan perkebunan. Setiba di Kecamatan Sirombu, entahlah apa yang terjadi yang jelas mata saya menjadi adem saat melihat masjid yang berdiri gagah. Tidak hanya satu tapi ada dua buah masjid berbeda ukuran, yang satu dinamakan masjid raya dan satu lagi masjid berukuran sedang, tetapi keduanya menyelengarakan shalat Jum’at. Mobil dinas yang saya tumpangi memasuki halaman kantor Kecamatan Sirombu. Begitu keluar, kami disambut Camat (saat itu masih dijabat) Yupiter Daeli (kalau sekarang Camat Sirombu bernama Yonata Hia).

Tidak terbayangkan sebelumnya, kedatangan kami ternyata disambut oleh banyak tokoh-tokoh muslim yang ada disana. Saya harus akui, ternyata Bupati Nias Barat Faduhusi Daeli telah mempersiapkan sebuah surprise yang tak pernah saya duga, dalam aula Kecamatan Sirombu peserta pertemuan ternyata para warga di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Mereka hampir semuanya memiliki peran kepengurusan di badan otonom NU seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor dan anggota Banser. Bahkan saya pun berjumpa untuk pertama kalinya dengan Ketua Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Nias Barat. Agghh senang hati ku…hatiku….berjumpa dengan mu syalala lala…lalalaaaa (nyanyi bentar melepas lelah kecapekan nulis hehehe)

note : mohon maaf, sehubungan dengan masuknya SMS dari provider yang memberitahu bahwa kuota internet saya telah habis, maka dengan sangat terpaksa edisi kedua berakhir. Akan bersambung di edisi ketiga yang akan mengupas detail proses pembangunan dan dinamika di Nias Barat. Mohon maaf sekali lagi….. See you letter my brother, bye….

  • Bagikan