Ini Biografi Kehidupan Pendiri AURI Indonesia 

  • Bagikan

BERITA9, BANYUWANGI -Suryadi Suryadarma adalah pendiri sekaligus Bapak AURI, tidak hanya berperan dalam mengembangkan dunia dirgantara pada bidang kemiliteran, tetapi juga sebagai pelopor pada penerbangan komersial.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, Suryadarma telah menjadikan dirgantara sebagai bagian dari hidupnya.

Biografi dan Kehidupan Awal,Terlahir dengan nama Elang Soeriadi Soeriadarma, Ia adalah anak dari R. Suryaka Suryadarma yang bekerja pegawai bank di Banyuwangi. Elang adalah gelar kebangsawanan yang ada di Keraton Kanoman Cirebon yang berarti Raden. Namanya kemudian disesuaikan dengan ejaan baru menjadi Raden Suryadi Suryadarma.

Ia masih memiliki garis keturunan dari Keraton Kanoman, Cirebon. Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Keraton Kanoman. Sedangkan kakeknya adalah Dokter Pangeran Boi Suryadarma yang bertempat tinggal di Kuningan, Jawa Barat, dia tamatan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA).

Sejak kecil Suryadarma telah menjadi yatim piatu, Ia ditinggal oleh ibu kandungnya dalam usia yang masih kecil, sedangkan ayahandanya wafat ketika Suryadarma berusia sekitar empat tahun.[2] Sepeninggal kedua orangtuanya, Suryadarma ikut keluarga kakeknya di Jakarta.

Pendidikan Umum,Tahun 1918, menjelang usia enam tahun, Soerjadi Soerjadarma masuk sekolah ELS (‘’Europeesche Lagere School’’) yaitu Sekolah Dasar khusus untuk anak asing (bangsa Eropa dan Tiongkok) dan anak-anak Indonesia yang miliki keturunan bangsawan atau anak pejabat yang kedudukannya bisa disamakan dengan bangsa Eropa. Sekolah dimana beliau menempuh pendidikan dasar adalah Paul Krugerschool yang merupakan cikal bakal dari PSKD (Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta), yang terletak di daerah Kwitang, Jakarta Pusat.

Tahun 1926, ia menyelesaikan pendidikanya di Europeesche Lagere School, yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yaitu Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung, sekarang ditempati SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung).

Namun sebelum berhasil menamatkan sekolahnya di kota ini, ia harus berpindah ke Jakarta dan melanjutkan di Koning Willem III School te Batavia – HBS di Jakarta, dan berhasil diselesaikan tahun 1931.

Karir Militer, Setelah lulus dari KW III School, beliau terus berusaha mengejar cita-citanya menjadi penerbang. Dari KW III School ia tidak dapat langsung mengikuti pendidikan penerbang, karena persyaratan menjadi penerbang harus menjadi perwira militer terlebih dahulu. Untuk menjadi perwira militer, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti pendidikan perwira di KMA (Koninklijke Militaire Academie), yang saat itu hanya ada di Breda, Belanda.

Keinginannya yang besar untuk menjadi penerbang, membuatnya pada bulan September 1931, beliau mendaftarkan diri masuk pendidikan perwira di KMA Breda, Belanda. Keinginannya untuk menjadi anggota militer ini sebenarnya tidak disetujui oleh Dr. Boi Suryadarma, kakek yang sekaligus menjadi ayah angkatnya.

Namiun setelah mendapat penjelasan dari Suryadarma, akhirnya kakeknya tidak keberatan Suryadarma menjadi kadet (taruna) KMA.

Di lingkungan kadet, ia sering disebut dengan pelbagai julukan, antara lain adalah Browne Baron yang artinya Pangeran berkulit coklat. Selain itu, di kalangan rekan-rekannya di KMA, ia dipanggil dengan nama Yacobus. Selama menempuh pendidikan, ia sangat gemar membaca terutama mengenai sejarah penerbangan di Eropa. Salah satu tokoh yang sangat ia kagumi adalah Giulio Douhet. Giulio adalah salah seorang Jenderal berkebangsaan Italia dan pernah menulis buku dengan judul The Command of the Air dan diterbitkan pada tahun 1921.

Dalam bukunya, ia menyatakan bahwasanya kekuatan udara tidak hanya sebagai penunjang serangan angkatan darat, tetapi ia bisa dipergunakan untuk menghancurkan sasaran-sasaran yang besar dan berada jauh dari pangkalan.

Akhirnya pada bulan September tahun 1934, Soerjadi Soerjadarma lulus dari Akademi Militer Breda, Belanda, dengan pangkat Letnan Dua. Pendidikan di KMA diselesaikannya selama tiga tahun.

Setelah lulus, ia ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmegen. Baru satu bulan kemudian, tepatnya di bulan Oktober, 1934, ia dipindahkan ke Batalyon I Infanteri di Magelang sampai bulan Nopember 1936.

Periode Pra-Kemerdekaan, Sosok Suryadarma, memiliki pengalaman yang kaya selama Perang Dunia II, karena ia merupakan satu dari empat puluh bumiputera yang diterima di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda, Belanda, sebelum PD II pada era Hindia Belanda.

Suryadi turut serta dalam operasi pengeboman kapal-kapal tentara Jepang, yang berjumlah tidak kurang dari 50 buah di atas langit yang cerah di pulau Tarakan, Borneo, tanggal 13 Januari 1942. Dalam operasi pengeboman ini, Suryadi bertindak sebagai navigator dan berpangkat Luitenant Waarnemer. Dari ketiga pesawat Martin B-10, Belanda.Dari tiga buah pesawat udara yang dikirimkan untuk operasi ini, hanya satu yang selamat dan diawaki oleh Suryadarma. Atas jasa keberanian yang luar biasa ini, Suryadi Suryadarma mendapatkan medali “Het Bronze Kruis” atau “The Bronze Cross”, sebuah tanda jasa khusus dalam bidang militer dan hanya dianugerahkan untuk mereka yang memperlihatkan keberanian luar biasa terhadap musuh.

Suryadi mendapatkan berita bahwa Sekolah Penerbang (Vliegschool) di Kalijati membukan pendaftaran bagi tentara Hindia Belanda, setelah bertugas beberapa lama di Batalion 1 Infanteri, Magelang. Proses seleksi awalnya ia mengalami kegagalan pada fase tes kesehatan, dimana ia dinyatakan menderita malaria dan sedang kambuh. Tahun depannya, ia melamar lagi, tetapi ditolak dengan alasan belum sembuh dari sakit malarianya. Dan baru pada kesempatan ketiga, ia lolos dari tes kesehatan dan memulai pendidikan penerbang di Sekolah Penerbang Kalijati, pada Desember 1937.

Ia diterima sebagai navigator tetapi Suryadarma konon berbakat sebagai penerbang namun tidak diizinkan karena ia pribumi. Suryadarma punya segudang pengalaman dengan terlibat dalam operasi-operasi udara AU Belanda, terutama ketika Belanda terdesak oleh invasi Jepang pada awal 1940-an. Ia terkenal akan keberaniannya sebagai navigator (sebagai letnan penerbang intai) dengan tiga pesawat pembom Martin B-10, yang mengebom armada Jepang di Tarakan tanpa disertai fighter escort pada tanggal 13 Januari 1942. Mereka berhasil mengebom dua kapal penjelajah (cruiser) Jepang, tetapi kemudian mereka diserang oleh pesawat-pesawat Zero, sehingga hanya bomber yang dipimpin oleh Suryadarma yang berhasil kembali meskipun dalam keadaan rusak dan penerbangnya luka parah. Karena jasanya, Pemerintah Belanda menganugerahi “The Bronze Cross” atas keberaniannya menghadapi musuh dan Medals for Distinguished Service During Combat untuk Jan Lukkien yang menjadi pilot pesawat tersebut dan sebagai Komandan Skadron Martin B-10.

Periode 1945-1949 , Dalam periode 1945-1949 tersebut, Suryadarma sebagai KSAU mengembangkan ‘minat dirgantara’ melalui pendirian Aeroclub, mewujudkan pendidikan dan latihan-latihan dasar penerbangan militer di Maguwo, Maospati dan Malang (teknik radio, radio operator, penerbang, paratroops, pembekalan udara, morse code). Suryadarma adalah orang pertama yang menyadari pentingnya keberadaan pasukan payung (paratroops) mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. Hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pasukan payung pertama di Indonesia yaitu Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang kini menjadi Paskhas TNI-AU. Suryadarma sangat mendukung gagasan-gagasan Wiweko Supeno dan Nurtanio dalam berbagai eksperimen pembuatan pesawat terbang dan helikopter di Maospati. Selain itu, ia bersama Halim Perdanakusuma dan Wiweko mengundang pesawat-pesawat angkut asing untuk menerobos blokade udara Belanda terhadap Indonesia.

Periode 1950-1954, Sedangkan Tahun 1950-1954, Suryadarma memprioritaskan pendirian sekolah-sekolah pendidikan dan latihan penerbangan. Hampir segala macam kejuruan teknis penerbangan militer dan sipil, dengan memanfaatkan tenaga-tenaga ahli Belanda (ex ML dan ex Luchvaart Dienst) sebagai instruktur, dosen dan pengawas mutu pendidikan. Hanya Sekolah Perwira Penerbang saja yang menggunakan instruktur-instruktur Amerika. Pada tahun 1954 tenaga-tenaga instruktur pendidikan sudah ditangani para perwira dan bintara AURI. Bahkan untuk calon-calon instruktur pendidikan yang berprestasi, Suryadarma mengirimkan para perwira dan bintara ini ke India Air Force dalam jumlah yang cukup banyak.

Periode 1950-1955Dalam periode tahun 1950-1955, ia konsisten mengembangkan minat dirgantara dan mendirikan Aeroclub di beberapa ibu kota provinsi. Bahkan, dari sipil pun yang berminat terbang dengan pesawat latih Piper Cub L4-J diizinkan, asal tetap memenuhi persyaratan fit and proper. Ada dua lichting berhasil memenuhi persyaratan sebagai Penerbang-III (klein brevet), yaitu mencapai 60-65 jam terbang. Para instruktur adalah penerbang AURI dan kursus ini terbatas hanya bisa diselenggarakan di Cililitan (Halim), Andir (Sulaiman, Bandung) dan Maguwo (Adisucipto). Sebagian besar masyarakat sipil ini adalah para dosen muda dari universitas. Penerbitan majalah kedirgantaraan Angkasa oleh Dinas Penerangan AURI pada tahun 1950 juga diprakarsai atas ide dari Suryadarma. Sekarang majalah Angkasa diterbit-lestarikan oleh grup Kompas Gramedia dibawah asuhan Jakob Oetama.
Curug, Garuda Indonesia dan IPTNSuryadarma bersama Soetanandika (Kepala Direktorat Penerbangan Sipil) menggagas berdirinya Akademi Penerbangan Curug ( Sekolah Penerbang, Sekolah Teknik Udara, Sekolah Lalu-lintas Penerbangan, dan Sekolah Meteorologi). Akademi ini harus memenuhi persyaratan-persyaratan ICAO. Pada tahun-tahun pertama, sekolah-sekolah ini menggunakan tenaga instruktur AURI, tetapi kemudian digantikan oleh tenaga asing atas rekomendasi ICAO dan ditambah dengan tenaga sipil yang sudah memenuhi kualifikasi ICAO.

Ia juga berperan dalam negosiasi pengambilalihan KNILM/KLM menjadi Garuda Indonesia Airways (GIA) pada tahun 1950-an dan penerbang-penerbangnya berasal dari lulusan Sekolah Perwira Penerbang AURI angkatan pertama. Selain itu, Suryadarma juga menggagas agar para penerbang dan kru penerbang sipil menjadi perwira dan bintara cadangan AURI. Masyarakat awam yang terlibat dalam penerbangan sipil oleh Suryadarma juga diangkat sebagai perwira yang berpangkat Tituler.

Suryadarma sangat mendorong dan mendukung semangat dan upaya kepeloporan Nurtanio Pringgoadisuryo mewujudkan cita-citanya membangun industri penerbangan Indonesia. Dalam tahap embrionalnya, proyek ini dinamai Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) yang secara struktural ada dalam organisasi AURI dan Suryadarma sebagai KSAU menentukan kebijakan dari lembaga tersebut. LAPIP kemudian berubah menjadi Lembaga Industri Penerbangan-Nurtanio (LIPNUR) pada tahun 1976 dan pada tahun 1980 diubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) oleh B.J. Habibie.

Pengunduran Diri , Pada tanggal 9 Maret 1960, Suryadi Suryadarma sempat meminta mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas ulah Letnan II (Pnb) Daniel Maukar yang pada pagi harinya menembaki Istana Negara Jakarta dengan pesawat tempur MiG-17F Fresco asal Skadron Udara 11, tetapi permintaan tersebut ditolak oleh Presiden Soekarno.

Namun akhirnya pada tanggal 19 Januari 1962, Suryadarma “dipaksa” mengundurkan diri dari jabatannya sebagai KSAU sebagai ekses dari peristiwa pertempuran Laut Aru yang menewaskan Komodor Laut Yos Sudarso. Hal ini pula yang mengakhiri karier gemilangnya selama kurang lebih 16 tahun memimpin AURI.

  • Bagikan