China Masih Jalani Praktek Pencurian Organ Napi untuk Donor

  • Bagikan
Ilustrasi

BERITA9, TIONGKOK – Pengacara HAM Internasional David Matas bekerjasama dengan Jurnalis Ethan Gutmann membuat sebuah laporan yang menggegerkan dunia bahwa China dilaporkan masih melakukan praktik lama yang mereka klaim telah dihentikan, yaitu mencuri organ tubuh para terpidana mati. Laporan terbaru menunjukkan, ada ribuan terpidana mati yang diambil organ tubuhnya di China.

Merilis dari kantor berita CNN, Kamis (23/6), China masih melakukan pengumpulan organ tubuh tahanan secara sistematis dan masif. Laporan ini dibuat berdasarkan pengumpulan data dari berbagai rumah sakit di China.

Matas dan Gutmann lantas merilis laporan Partai Komunis China bahwa setiap tahunnya ada sekitar 10 ribu pencangkokan organ tubuh di negara itu. Namun dari survei yang dilakukan keduanya ke berbagai rumah sakit yang menangani transplantasi organ, jumlah pencangkokan jauh lebih besar.

Setidaknya ada sekitar 60 ribu hingga 100 ribu organ yang dicangkok di rumah sakit China. Organ-organ tubuh ini disebut didapatkan dari para terpidana mati, kebanyakan tahanan kasus politik atau keagamaan yang terlarang, seperti Falun Gong, Uighur, Tibet atau umat Kristen.

‘Berlimpahnya’ jumlah organ tubuh dari para terpidana mati, membawa keuntungan finansial bagi rumah sakit dan dokter, bahkan praktek itu telah menjadi bagian dari industri yang berkembang pesat.

Sementara itu, pemerintah China mengeluarkan data resmi, ada lebih dari 100 rumah sakit di negara itu yang memiliki izin melakukan pencangkokan organ. Klaim pemerintah China dibantah Gutmann yang menemukan setidaknya ada 712 rumah sakit yang melakukan cangkok hati dan ginjal.

Komisi Keluarga Berencana dan Kesehatan Nasional China yang menangani donasi organ tubuh di China belum mengeluarkan pernyataan terkait laporan ini. Laporan ini akan disampaikan ke Komisi Hubungan Luar Negeri Dewan Amerika Serikat pada Kamis.

“Praktik rezim [China] yang menjijikkan dan tidak manusiawi dengan merampok kebebasan dari seseorang, melemparkan mereka ke penjara dan kamp kerja paksa, lalu mengeksekusi dan mencuri organ tubuh mereka untuk pencangkokan harus dihentikan seluruhnya,” kata Anggota dewan AS, Ileana Ros Lehtinen, dalam pernyataannya.

Untuk niat baik

Sebenarnya praktik pencurian organ tubuh tahanan telah dilakukan oleh China selama puluhan tahun. Baru pada 2005 China mengakui adanya praktik tersebut dan berjanji memperbaikinya. Lima tahun kemudian, Huang Jiefu, direktur Komisi Donasi Organ China mengatakan dalam jurnal medis The Lancet, lebih dari 90 persen transplantasi organ masih berasal dari terpidana mati.

mengutip data dari Death Penalty Worldwide China adalah salah satu negara dengan angka eksekusi mati tertinggi di dunia. Tahun 2014, sedikitnya ada 2.400 orang dieksekusi mati di China. Akhir tahun 2014, China menyatakan akan beralih ke sistem donasi organ sepenuhnya. Namun kenyataannya, hanya sedikit sekali orang yang mau menyumbangkan organ tubuh mereka.

Namun kenyataannya berbeda, data antara tahun 2012 hingga 2013, pemerintah China hanya berhasil menjaring 1.400 orang yang mendaftar untuk menyumbang organ tubuh mereka, sedangkan permintaan sumbangan organ mencapai lebih dari 300 ribu orang yang butuh pencangkokan.

Seperti diketahui, sekte Falun Gong merupakan sekte terlarang di China dan dianggap menyebarkan paham anti-Beijing sejak tahun 1999. Menurut Amnesty International, puluhan ribu penganut Falun Gong ditahan dan disiksa.

Laporan ini menunjukkan bahwa para tahanan Falun Gong dipaksa menjalani tes darah dan uji medis lainnya. Hasil tes medis mereka kemudian dimasukkan ke database sumber pendonor organ. (red/hwi)

 

  • Bagikan