Bertaruh Nasib Menjadi Petani Di Banyuwangi

  • Bagikan

BERITA9, BANYUWANGI – Banyuwangi memegang peran penting dalam menghasilkan kestabilan pangan nasional. Hal ini dipengaruhi dalam angka ekspor mina dan agro bisnis yang semakin lama akan menjadi sektor andalan dalam menjaga kestabilan politik dari sisi menjaga stok pangan selain sektor energy dalam negeri, salah satunya adalah beras. Lahan baku sawah yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi sangat luas. Data terakhir dari dari Kementrian BPN/ATR No. 1589/SK-HK.02.01/XII/2021 bahwa Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dan Plotting Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan LP2B memberikan informasi bahwa lahan sawah yang produktif Kabupaten Banyuwangi memiliki kurang lebih terdapat 60.000 Ha. Itupun masih belum terhitung luasan lahan baku kebun produktif yang ditanami berbagai macam tanaman yang tergolong dalam tanaman buah, sayuran dan tanaman berbatang keras lainya.

Luasan baku lahan dalam lahan perkebunan mencapai kurang lebih 80.000 Ha. Dengan modal luasan antara lahan baku luasan sawah dan perkebunan mencapai hampir kurang lebih 150.000 Ha. Potensi yang sangat besar untuk ditata, dikelola dan dimanajemen secara profesional baik dari sisi hilirisasi maupun sektor hulu (produksi).

Lahan baku sawah dalam hitungan produktif rata-rata diasumsikan menghasilkan padi 5 Ton saja per/Ha maka persatu kali panen saja (3-4 bulan), Banyuwangi menghasilkan beras daerah sebesar 300.000 Ton. Asumsi bahwa dirata-rata dalam 1 tahun saja menghasilkan/beras Banyuwangi maka dapat diproduksi 500-600 Ribu Ton beras dalam kurun waktu 1 Tahun, jika dikalikan harga per-kg beras Rp 8.000-10.000 per-Kg akan tercipta perputaran bisnis di Banyuwangi sebesar 4,8 – 6 Triliiun per 3-4 bulan, perputaran niliai bisnis yang besar. Belum lagi proyeksi bisnis yang tercipta dari luasan lahan perkebunan dan entitas bisnis pertanian lainya. Belum lagi audit produksi terhadap lahan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) lahan-lahan perkebunan dan perhutani tanaman produksi. Perlu penyadaran gerak dan langkah strategi pembangunan yang menjadikan potensi lahan baku sawah/kebun dapat mensejahterakan masyarakat Banyuwangi secara merata yang selama ini lebih 1 dekade terabaikan dan ditata dengan profesional.

Sektor pertanian saat ini dianggap tidaklah menarik bagi Generasi Kaum Muda Banyuwangi, sebagai sektor yang dapat menjadi jaminan pekerjaan atau penghasilan andalan sumber kehidupan mereka kedepan. Perasaan muncul karena melihat generasi pada orang tua dan pendahulunya bahwa keluarga petani adalah kaum yang masih perlu mendapatkan perlindungan kehidupan, terkecuali kepemilikan lahan yang cukup luas. Dalam produktifitas hasil pertanian memang harus diperhitungkan faktor “Trade Off (nilai pada titik optimalisasi positif)” dalam efisiensi pengolahan biaya produksi dan hasil harga produksi, dimana lahan pertanian yang kurang dari 1 Ha saja akan habis termakan modal yang harus dikeluarkan. Sehingga ada istilah effort/upaya sendiri dalam bertanam tidak perlu dihitung, supaya bisa diasumsikan “hasil dan nganyari duwek (memperbaharui uang saja)”. Kondisi petani di Banyuwangi, dalam “kepemilikan” petak lahan dapat dirata-rata hanya memiliki 2 sampai 3 ribu M2 saja, sehingga hal ini menjadi skema kehidupan petani “gali lubang tutup lubang” belum lagi faktor harga yang tidak menentu yang dianggap sebagai “gambling judi” seperti dianggap “bertaruh” dalam permulaam tanam.

Petani menginginkan adanya “kesetabilan dan jaminan harga” dalam serapan panen, tidak perlu adanya spekulasi harga, sehingga ketidakpastian mendera saat panen, bisa senang juga sedih dan jatuh miskin kembali. Asalkan biaya produksi “tercover” dan speling harga (varian positif keuntungan) antara modal produksi dan harga jual. Diberi keutungan dengan kestabilan 20-25% keuntungan, para petani sudah sangat senang untuk berekembang. Tapi kenyataan hal tersebut tidaklah terjadi, sebab mekanisme pasar lebih berpihak pada kekuatan permainan jaringan pemain modal, dari tingkatan kecil (tengkulak dan pengijon) sampai pemain besar jaringan distribusi logistic dan jaringan pasar di daerah pertanian yang berafiliasi pada tengkulak/pemain besar (pemodal besar) tingaktatan desa dan kecamatan, kalau pemain kabupaten ya tentunya 1 dan 2 orang saja yang memegang peranan dan mengendalikan, lalu siapa yang menjadi korban, ya tentunya petani kembali yang terbatas dalam segala akses “keberpihakan”.

Faktor-faktor dalam peningkatan hasil konsistensi dan kwalitas pertanian dipengaruhi dari beberapa aspek yang harus berpihak pada petani, ketersediaan mulai dari permodalan, sarpras, bibit, pupuk, obat, sistem teknologi jaringan pasar dan pemasaran, logistik dan distribusi menciptakan satu langkah “trobosan” mekanisasi dan sistem pemerintah mulai fokus dalam kinerja-kinerja maksimal, karena Banyuwangi adalah daerah operasi produksi pertanian. Potensi peningkatan, perlindungan dan pemberdayaan menitik beratkan ekonomi berbasis potensi yang “raw material” ada di daerah Banyuwangi. Potensi pertanian sebagai issue yang sangat strategis, issue yang menjadi kekhawatiran semua dunia akan pangan dimasa datang,  benar-benar dikonsep direncanakan dalam langkah yang sangat subtantif dan rigid detail. Tidak lagi hanya berwacana dan retorik dengan kamuflase politik “Post Truth (Politik, Kekuasaan dan Kebohongan)” yang terjadi, tetapi langkah yang semua masyarakat tahu terkonsep yang terencana baik dan benar-benar implemntatif. (*)

Oleh : Andi Purnama (Pengamat kebijakan publik dan pembangunan Kabupaten Banyuwangi).

  • Bagikan