oleh

Warga Muncar Banyuwangi, Keluhkan Polusi Dari Pabrik Pengalengan Ikan

BERITA9, BANYUWANGI – Keluhan polusi debu hitam pekat mencuat ditengah masyarakat Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Khususnya diwilayah RW 3.

Tak pelak, warga pun resah. Mengingat disaat panas terik, debu hitam pekat yang diduga polusi dari sisa pembakaran pabrik pengalengan ikan didaerah setempat tersebut bertebaran mengotori pemukiman masyarakat. Bahkan disebut-sebut telah mencemari udara hingga mengganggu pernafasan.

Muhammad Taji, tokoh warga Dusun Sampangan menyampaikan, disinyalir polusi debu hitam pekat berasal dari pembakaran batu bara dalam proses produksi pabrik pengalengan ikan.

Hingga akhirnya, pada Jumat, 22 Mei 2020, dia bersama H Sunarto, selaku perwakilan warga, didampingi Kepala Dusun Sampangan, Anton Ansori, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Kedungrejo, mendatangi sejumlah pabrik.

Tujuan pertama menyasar PT Sumber Yala Samudra. Karena dampak polusi debu hitam pekat paling dirasakan diwilayah RT 02 dan 03, RW 3, Dusun Sampangan. Atau di pemukiman warga yang berdekatan dengan PT Sumber Yala Samudra.

Disebutkan, saat itu perwakilan warga dan perangkat Desa Kedungrejo, ditemui pimpinan PT Sumber Yala Samudra.

“Tapi entah kenapa, PT Sumber Yala, menolak untuk menunjukan tungku pembakaran, dan hanya menunjukan video saja. Dan mereka menuding penyebab debu pekat adalah PT Sari laut,” ucap Muhammad Taji, Minggu (31/5/2020).

Karena menolak untuk menunjukan tungku pembakaran, masyarakat pun akhirnya muncul kecurigaan. Bahwa penyebab polusi beruba debu pekat hitam yang sering mengotori pemukiman itu berasal dari cerobong asap PT Sumber Yala Samudra.

Apalagi warga memang sering mendapati limbah batu bara dialiran air yang masuk ke perumahan. Dan saluran tersebut airnya berasal dari PT Sumber Yala Samudra.

“Kalau Sumber Yala bilang gak pakai batu bara, masyarakat punya bukti dan tahu semua. Lha limbah batu bara itu sering ikut ke saluran air. Air itu dari Sumber Yala, sebagai kompensasi pembangunan IPAL,” ungkapnya.

Dan karena pihak PT Sumber Yala Samudra, menuding bahwa polusi debu hitam pekat berasal dari PT Sari laut, warga pun langsung bertandang. Oleh PT Sari Laut, perwakilan warga bersama perangkat desa, diajak melihat langsung tungku pembakaran.

“Kita melihat sendiri, di PT Sari Laut, untuk pembakaran mereka menggunakan kayu bakar. Dan masyarakat sini kan juga paham, cerobong asap PT Sari Laut itu jauh dari pemukiman warga, tapi kalau cerobong asap PT Sumber Yala, ya diatas pemukiman kita,” ungkap Taji.

Namun sayang, terkait keluhan polusi debu hitam pekat yang disampaikan oleh warga, Pimpinan PT Sumber Yala Samudra, David Wijaya Tjoek, menolak berkomentar. Dia justru mempertanyakan legalitas awak media meskipun dalam wawancara si wartawan telah memperkenalkan diri lebih dulu.

“Sebelum menjawab saya harus tahu dari media mana anda, mewakili siapa, bukti keangotaan jurnalistik anda. Dan kedua tolong diselidiki lagi apakah benar dan bukti dari klaim warga tersebut dan bukan hanya klarifikasi, terima kasih,” katanya.

“Satu lagi, saya hanya mau diwawancara langsung, bukan lewat teks,” imbuh pria yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Banyuwangi ini. (red)

loading...

News Feed