oleh

PT BSI Surati Walhi Nasional Atas Kampanye Dusta di Media Online Nasional


BERITA9, BANYUWANGI – PT Bumi Suksesindo (PT BSI) sepertinya sudah jengah dengan berbagai tudingan miring. Terbukti, perusahaan tambang emas di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, kini bereaksi. 

Hari ini, Sabtu (11/4/2020), mereka berkirim surat pada Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), atas pemberitaan berjudul ‘Jokowi Didesak Tegur Kapolri Stop Sudutkan Pejuang Lingkungan’ yang diunggah oleh media online Nasional yang berbasis di Inggris, Kamis, (9/4/2020).

Disebutkan, PT BSI menilai apa yang disampaikan Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Walhi Nasional, Wahyu A Perdana, selaku narasumber, hanya berisi dusta atau bertolak belakang dengan fakta dilapangan.

Baca Juga : Tanpa Hasil Tes Warga Muncar Dipulangkan, DPRD Banyuwangi Pertanyakan Kinerja Gugus Tugas Covid-19

“Dalam pemberitaan disebutkan ; Kasus ketiga adalah penutupan tenda perjuangan Tumpangpitu, Banyuwangi, Jawa Timur. Pada 27 Maret 2020, pihak kepolisian melakukan intimidasi dan membubarkan paksa aksi damai petani Tumpangpitu yang menolak perluasan area PT BSI.

Akibat tindakan ini, beberapa warga mengalami luka berat di kepala,” ucap Senior Manager Eksternal Affairs PT BSI, Sudarmono, membacakan pengga Kilan narasi pemberitaan media tersebut, Sabtu (11/4/2020).

Faktanya, masih Sudarmono, apa yang tertuang dalam pemberitaan tentang kejadian Jumat, 27 Maret 2020 bukanlah perobohan tenda. Melainkan aksi anarkis Kelompok Tolak Tambang (Poktolak) terhadap rumah dan harta benda karyawan, pekerja dan warga masyarakat yang dianggap mendukung operasi tambang PT BSI di Tujuh Bukit. Dia juga membantah jika Poktolak adalah para petani Tumpang Pitu.

Baca Juga : Pasca Aksi Massa Tolak Geolistrik, 13 Rumah Warga di Banyuwangi Dikabarkan Rusak

“Para penggagas tenda biru diujung Dusun Pancer dan juga massa yang melakukan penghadangan logistik perusahaan dan berujung tindakan anarkis serta perusakan, umumnya berprofesi sebagai Penambang Emas Tanpa Izin (PETI), nelayan, juragan ikan, pengelola homestay ilegal dan rentenir,” tegas Sudarmono.

Ditegaskan, dalam kejadian tersebut justru masyarakat yang dianggap mendukung operasi tambang PT BSI yang jadi korban. Tercatat 60 unit kendaraan bermotor roda dua, termasuk milik wartawan yang sedang meliput, menjadi sasaran perusakan Poktolak. Termasuk 2 unit kendaraan roda empat, 13 rumah tinggal, dan 1 tempat usaha milik warga. 

“Bahkan ada seorang anak kecil yang luka bocor bagian kepala akibat terkena lemparan batu massa Poktolak,” cetusnya.

Laporan : Joko Prasetyo

loading...

News Feed