oleh

Ponpes Blokagung Soroti Lambannya Penanganan Kasus Korban Penganiayaan Saat Sahur Keliling

BERITA9, BANYUWANGI – Lambannya penanganan kasus pengeroyokan peserta patrol sahur keliling di Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, mengundang kalangan tokoh ulama angkat bicara.

Salah satunya, anggota dewan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, KH Ahmad Munib Syafaat, Lc. Msi. Dia mendesak Polsek Purwoharjo, untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut.

“Saya berharap kasus ini diselesaikan secara baik dan transparan,” katanya kepada wartawan, Sabtu (30/5/2020).

Seperti diketahui, pengeroyokan terhadap peserta patrol sahur keliling diwilayah Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, ini terjadi pada Minggu dini hari, 3 Mei 2020 lalu. Diduga pelaku pengeroyokan adalah puluhan pemuda desa setempat.

Akibat kejadian tersebut sejumlah peserta tradisi religius warisan leluhur ini mengalami luka-luka. Bahkan beberapa mengalami luka bocor dibagian kepala. Demi menuntut keadilan dan penegakan supremasi hukum, 4 orang diantaranya mengadu ke Polsek Purwoharjo, pada Kamis, 7 Mei 2020. Oleh polisi, mereka juga langsung diarahkan untuk Visum.

Keempat korban pengeroyokan yang mengadu adalah Heru Andhika Putra, FX Frandi Utama dan Qori Kurnia Tama. Ketiganya warga Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring. Dan satu lagi Wahyu Triyoga Mustika, asal Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring.

Setelah hampir dua minggu tak ada perkembangan, pada Senin, 18 Mei 2020, Polsek Purwoharjo, mengirimkan surat undangan klarifikasi kepada para korban. Keesokan harinya, Selasa, 19 Mei 2020, para korban datang ke Mapolsek dan sesuai isi surat undangan klarifikasi, mereka menemui petugas bernama Johanes Tadete SH.

Disitu para korban mengaku dicecar pertanyaan tentang keberadaan sound system, alat pengeras suara patrol sahur. Dengan kooperatif, mereka menjelaskan bahwa saat melintas diwilayah Desa Glagahagung, sound system hidup dengan volume rendah. Namun entah kenapa, menurut para korban, si petugas justru menolak penjelasan tersebut. Dan bersikukuh bahwa dia hanya bertanya sound system hidup atau mati.

Sikap ngotot petugas terkait sound system ini menimbulkan tanda tanya besar dikalangan para peserta patrol sahur korban pengeroyokan. Terlebih mereka memang tidak berada di kendaraan pengangkut sound system. Mereka hanya mengikuti dibelakang dengan menggunakan kendaraan bermotor masing-masing.

Selanjutnya, oleh petugas 4 peserta patrol sahur keliling kembali diminta untuk membuat surat pengaduan. Lagi-lagi sebagai bentuk dukungan atas kinerja kepolisian, dengan kooperatif keesokan harinya, Rabu, 20 Mei 2020, mereka langsung mengirim surat pengaduan kedua.

Bahkan, dalam surat pengaduan kedua, para korban menyertakan sejumlah nama yang diduga terlibat atau mengetahui aksi pengeroyokan.

“Jika memang tahapan sudah dilaksanakan, seperti laporan dan pengaduan, sebaiknya sesegera mungkin untuk ditindaklanjuti,” cetus tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Rektor Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung ini.

Dalam mengungkap pelaku kasus pengeroyokan terhadap peserta patrol sahur keliling di Desa Glagahagung ini, Polsek Purwoharjo, Banyuwangi, telah memanggil sejumlah saksi. Diantaranya, Kepala Dusun Arik Asdiyanto dan Juni, tokoh pemuda Desa Glagahagung.

Namun hasil pantauan awak media terdapat perbedaan antara penjelasan korban dengan Kepala Dusun Arik Asdiyanto. Siapa yang benar ya?. (red)

loading...

News Feed