oleh

Setia Kepada NU dan NKRI, Ini Dasarnya

BERITA9, SURABAYA – Warga Nahdliyin -sebutan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU)- diseluruh Indonesia saat ini ditaksir berjumlah lebih dari 80 juta orang. Bahkan, jumlah tersebut diyakini terus bertambah seiring semakin berkembanganya amaliyah yang dilakukan NU.

Bagi sebagian orang, kecintaan yang besar terhadap NU bukan tanpa alasan. Tidak hanya sekedar mempertahankan lembaga yang dilahirkan para ulama, tetapi juga lebih menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

“Pendiri NU adalah para Kyai. Orang yang dianggap alim dengan ilmu agama yang sangat luas, tidak itu saja, ahlaq mereka juga sangat bagus sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW,” kata KH Marzuki Mustamar.

Bagi Kyai Marzuki, merekalah yang berjuang dalam melawan penjajah, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan khususnya terkait dasar negara dengan landasan Islam. Bahkan sebelum pra-kemerdekaan, jumlah Kyai, Ustadz dari pondok pesantren yang tidak terhitung jumlahnya, berguguran melawan penjajah.

“Ada Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya yang mereka telah mengorbankan harta hingga nyawa untuk kemerdekaan ini,” kata dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang ini. Sehingga keberadaan NKRI ini dibangun di atas tulang belulang para syuhada dan ulama.

Karenanya sangat beralasan kalau kemudian NU sebagai organisasi sosial keagamaan menerima Pancasila mengawali organisasi serupa di tanah air. “Karena dari Pancasila telah tercakup seluruh pesan keagamaan yang memang diperjuangkan oleh NU,” terangnya.

Tentu saja NU dan Kyai akan menolak ajakan sejumlah partai politik dan ormas yang akan memperjuangkan negara Islam versi mereka. “Bagaimana kita bisa percaya dengan golongan yang mewacanakan untuk mendirikan negara Islam” katanya.

Bukankah secara konsepsional, antara mereka belum satu kata dalam memaknai negara Islam? Ada yang mendambakan khilafah islamiyah jumhiriyah, mamlakah, imamiyah  dan sebagainya.

“Ini belum termasuk membicarakan para pendiri organisasi dan partai politik tersebut,” sergahnya.

Kiai Marzuki kemudian mengajak para Gus dan Ning untuk membandingkan ketokohan dan kelayakan Hadratussyekh Mbah Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU dan ulama lainnya dengan para pendiri partai dan organisasi keagamaan baru tersebut. “Kalau dibandingkan ya bainas sama’ wa sumur minyak,” katanya sembari tertawa.

Di hadapan ratusan peserta yang hadir, Kiai Marzuki memastikan bahwa di bawah NKRI, segala amaliyah dilindungi dengan baik. “Di Indonesia tahlilan jalan, istigotsah jalan, dibaan lancar, maulid al barzanji jalan, ziarah kubur dan sejenisnya dilindungi,” terangnya.

Bagaimana kondisi yang sudah aman dan tentram serta teruji ini akan diganti dengan model kepemimpinan seperti khilafah dan sejenisnya. Siapa yang bisa menjamin bahwa amaliyah warga NU akan terpelihara saat sistem pemerintahan di negeri ini diganti.

“Saat saya hendak makan singkong, tiba-tiba ada teman yang mencegah dan menyuruh membuang singkong yang sudah siap disantap,” kata Kiai Marzuki memberi tamsil.

Sang teman kemudian menjanjikan akan menyediakan roti dan makanan lezat yang lain. Akan tetapi makanan lezat yang disampaikan hanya janji bahkan tidak pernah ada. “Kalau saya menerima tawaran itu kan berarti bodoh?” sergahnya.

Itulah perumpamaan kalau kemudian Indonesia akan diubah dengan sistem lain. “Bagaimana mungkin warga NU dan mayoritas umat Islam akan menerima sistem baru yang belum teruji dengan membuang sistem pemerintahan yang telah menjamin banyak hal?” katanya dengan nada bertanya.

Mantan Rais PCNU Kota Malang ini memang tidak menampik kalau sistem Pancasila ada kekurangan. “Tapi kita telah diajarkan oleh salafus shalih bahwa apa yang tidak dapat diraih seluruhnya, maka jangan ditinggalkan semuanya,” katanya. Jangan karena sistem belum sempurna maka akan diganti dengan sistem baru, apalagi memang belum teruji, lanjutnya.

“Dengan sejumlah alasan tersebut, tidak ada pilihan bagi warga NU kecuali semakin mantap dalam berjam’iyah serta kukuh menjaga negeri ini bahkan dikatakan bahwa NKRI harga mati,”  pungkasnya. (red/hwi)

Penulis : Ibnu Nawawi dan Abdullah Alawi

loading...

News Feed