oleh

Reformasi 1998 Dibajak Oligarki Partai Politik

BERITA9, JAKARTA – Usia 20 tahun reformasi sejak 1998 telah kehilangan ruhnya gegara dibajak oleh partai politik. Sedangkan partai dibajak oleh kepentingan oligarki partai itu sendiri.

“Sudah 20 tahun lebih, perjalanan reformasi ini. Tapi apa yang terjadi, malah banyak menimbulkan masalah baru. Ini perlu perbaikan bersama kedepan,” kata Cendikiawan Muslim Indonesia, Komaruddin Hidayat dalam diskusi daring dengan tema ‘Desain Penegakan Hukum yang Demokratis dan Berkeadilan’ di Jakarta, Ahad (5/7/2020).

Komaruddin menjelaskan, partai tidak memiliki akar ke masyarakat disebabkan oligarki yang begitu melanda partai politik. Maka tak heran berakibat pada ketidakadaan basis massa yang kuat guna mengejawantahkan ideologinya.

“Di sisi lain, parpol juga tidak melahirkan politisi-politisi dengan gagasan-gagasan kenegarawaan yang cemerlang. Hal itu karena keputusan partai dibajak oleh segelintir elit dalam partai,” ujarnya.

Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta dua periode itu menjelaskan, dengan kondisi stagnan seperti ini, menjadi penyebab Indonesia tidak menjadi negara gagal, tapi tidak juga menjadi negara maju. Kondisi seperti ini disukai oleh negara-negara luar.

“Pasalnya jika Indonesia menjadi negara gagal, akan menyulitkan banyak negara, tertutama negara tetangga. Jika Indonesia menjadi negara gagal, banyak negara tetangga akan dibanjir oleh orang Indonesia yang menjadi pekerjaan,” kata Komaruddin.

Sebaliknya jika Indonesia menjadi negara maju, akan menjadi ancaman bagi negara-negara lain, terutama negara tetangga. Negara Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina dan sebagainya akan tenggelam oleh kemajuan Indonesia karena memiliki pasar yang sangat luas.

“Dengan pandemi Covid-19 seperti sekarang, di mana kegagalan terjadi di semua negara maka menjadi momen bagi bangsa ini untuk koreksi diri. Bangsa ini harus membangun peradabaannya yang bisa memperbaiki kesulitan-kesulitan yang terjadi selama ini,” tutupnya. (red)

loading...

News Feed