oleh

Pemuda Pancasila : Kasus Pengeroyokan Peserta Patrol Sahur di Banyuwangi Lamban, Ada Apa?

BERITA9, BANYUWANGI – Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila (PP) Banyuwangi, mendesak Polsek Purwoharjo, untuk segera mengusut tuntas kasus pengeroyokan terhadap peserta kegiatan keagamaan patrol sahur keliling.

“Kita harus ingat, Banyuwangi, adalah kabupaten religius dengan mayoritas penduduk muslim. Jangan sampai lambannya penanganan kasus pengeroyokan peserta patrol sahur memicu adanya konflik,” ucap Wakil Ketua MPC PP Banyuwangi, Halili Abdul Ghany, Rabu (27/5/2020).

Seperti diketahui, insiden pengeroyokan terjadi pada Minggu dini hari, 3 Mei 2020 lalu, di wilayah Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo. Menimpa 4 orang pemuda peserta patrol sahur keliling. Yakni Heru Andhika Putra, FX Frandi Utama dan Qori Kurnia Tama. Ketiganya warga Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring. Dan satu lagi Wahyu Triyoga Mustika, asal Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring.
Akibat aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh puluhan pemuda Desa Glagahagung, keempat korban mengalami luka bocor bagian kepala serta bagian tubuh lainnya.

“Ketika menjalani perawatan medis sesaat setelah dikeroyok, para korban didatangi dua orang pria, mengaku Kepala Dusun bernama Arik dan satu lagi perwakilan pemuda pelaku pengeroyokan, bernama Juni. Foto si Juni ini sudah dicantumkan dalam pengaduan para korban, termasuk foto pemuda lain kelompok terduga pelaku pengeroyokan,” ungkapnya.

Pada Kamis, 7 Mei 2020, masih Halili, para korban melakukan pengaduan pertama ke Polsek Purwoharjo. Dan saat itu pula, petugas meminta mereka untuk Visum ke Puskesmas Purwoharjo. Dan itu langsung dilakukan.

Namun setelah hampir dua minggu tidak ada tindak lanjut, pada Selasa, 19 Mei 2020, para korban mendapat undangan klarifikasi dari Polsek Purwoharjo. Disitu keempat peserta patrol sahur keliling diminta menemui petugas bernama Johanes Tadete SH. 

“Disitu para korban mengaku ditanya terkait sound system, pengeras suara dalam patrol sahur keliling. Dijelaskan bahwa sound system nyala tapi volume rendah, tapi si petugas malah menolak penjelasan dari para korban, dengan dalih tidak tanya soal volume. Ini ada apa?, patrol sahur itu kegiatan umat muslim, kok sepertinya dipermasalahkan,” ulas Halili.

Ketua MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, Zamroni SH menambahkan, usai menjalani klarifikasi, para korban diminta untuk membuat surat pengaduan kedua. Dan keesokan harinya, Rabu, 20 Mei 2020, surat pengaduan langsung dikirim ke Polsek Purwoharjo.

“Menurut kami, ketika sound system patrol sahur keliling dibunyikan dengan volume keras sekali pun, aksi pengeroyokan tetap tidak bisa dibenarkan,” katanya.

Tanda tanya besar juga mencuat dari keterangan jajaran Polsek Purwoharjo melalui sejumlah media. Yang menyebut bahwa saat patrol sahur keliling melintas diwilayah Desa Glagahagung, sound system bervolume keras. Dan aksi pengeroyokan diawali dengan cek cok adu mulut.

Padahal, lanjut Zamroni, para korban saat dimintai keterangan pihak kepolisian menegaskan bahwa sound system bervolume kecil. Dan pengeroyokan terjadi begitu saja ketika para korban hendak melerai sejumlah teman yang lebih awal dikeroyok oleh kawanan pemuda di Desa Glagahagung.

“Para korban mengaku tidak ada cek cok mulut, tapi langsung dikeroyok. Entah dari mana dasar pernyataan pihak Polsek Purwoharjo tersebut,” cetus Zamroni.

Kepada Wartawan Kanit Reskrim Polsek Purwoharjo, Ipda Agus Suhartono, menjelaskan bahwa pihaknya belum memanggil para pihak yang diduga pelaku atau disinyalir terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap peserta patrol sahur keliling.

“Sudah kita undang, kemungkinan besok menghadap dan kita mintai keterangan,” ucapnya.

Atas kejadian ini, MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, meminta Polsek Purwoharjo, agar segera melakukan tindakan sesuai prosedur hukum dan per Undang-Undangan yang berlaku. Mengingat aksi pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh puluhan pemuda Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, sudah mengarah pada perbuatan pidana.Serta menodai kesakralan kegiatan keagamaan bulan Ramadhan.

Perbuatan para pelaku juga telah membuat para korban mengalami luka serius fisik serta trauma psikis. Jika dibiarkan, dikhawatirkan aksi kekerasan dan tindakan menjurus pidana akan menjadi tradisi dikalangan masyarakat. Yang selanjutnya berpotensi menimbulkan gangguan kondusifitas dan stabilitas keamanan di Banyuwangi. (red)

loading...

News Feed