oleh

Pemuda Pancasila Banyuwangi Siap Kawal Perjuangan 4 Pemuda Peserta Patrol Sahur Korban Pengeroyokan Dalam Menuntut Keadilan

BERITA9, BANYUWANGI – Kasus pengeroyokan peserta kegiatan keagamaan patrol sahur keliling di Banyuwangi, memasuki babak baru. Kini perjuangan para korban dalam menuntut keadilan, dikawal oleh Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila (PP) Banyuwangi.

“Ini kegiatan keagamaan yang harus dihargai, dan apa pun alasanya melakukan penganiayaan atau pengeroyokan itu tidak bisa dibenarkan, karena negara kita negara hukum,” ucap Ketua MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, Zamroni SH, Selasa (26/5/2020).

Kasus pengeroyokan ini menimpa 4 orang pemuda peserta patrol sahur keliling. Yakni Heru Andhika Putra, FX Frandi Utama dan Qori Kurnia Tama. Ketiganya warga Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring. Dan satu lagi Wahyu Triyoga Mustika, asal Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring.

Insiden terjadi pada Minggu dini hari, 3 Mei 2020 lalu, diwilayah Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo. Diduga perbuatan pidana tersebut dilakukan oleh para pemuda setempat.
Yang menarik, masih Zamroni, meski Banyuwangi adalah kabupaten dengan penduduk mayoritas muslim, penanganan kasus pengeroyokan terhadap peserta patrol sahur keliling ini justru terkesan lamban. Padahal, pada Kamis, 7 Mei 2020, para korban yang masih berusia ABG, sudah mengadu ke Polsek Purwoharjo. Dan saat itu pula, petugas meminta mereka untuk Visum ke Puskesmas Purwoharjo.

Hampir dua minggu tidak ada tindak lanjut, pada Selasa, 19 Mei 2020, para korban diundang Polsek Purwoharjo, untuk klarifikasi.

“Pengakuan para korban dan sesuai isi surat undangan klarifikasi, mereka (para korban) diminta menemui petugas bernama Johanes Tadete SH. Disini para korban ditanya tentang pengeras suara sound system patrol sahur,” cetusnya.

Dijelaskan bahwa saat melintas diwilayah Desa Glagahagung, volume suara sound system rendah. Namun menurut pengakuan para korban, si petugas malah menolak penjabaran tersebut. Dan bersikukuh bahwa dia hanya menanyakan sound system hidup atau mati dan berdalih tidak menanyakan terkait tinggi rendah volume.

“Ini kegiatan religius, dan dilakukan ditengah masyarakat muslim, lalu apakah perbuatan penganiayaan itu bisa dibenarkan jika patrol sahur dilakukan dengan sound kencang?,” ungkap Zamroni.

Disebutkan, usai menjalani klarifikasi, para korban yang sebelumnya telah melakukan Visum, diminta untuk membuat surat pengaduan. Dan keesokan harinya, Rabu, 20 Mei 2020, surat pengaduan tersebut telah dikirim ke Polsek Purwoharjo.

Sebagai bentuk pendampingan, pengawalan dan dukungan dalam perjuangan menuntut keadilan, MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, akan melayangkan surat klarifikasi ke Polsek Purwoharjo. Dan ditembuskan ke Kanit Propam dan Kapolresta Banyuwangi.

“Dalam surat tersebut kita jabarkan kembali kronologi kejadian serta kita lengkapi dengan sejumlah foto oknum yang diduga terlibat dalam kasus pengeroyokan kegiatan keagamaan patrol sahur tersebut,” gamblang Zamroni.

Dicontohkan, diantara peserta patrol sahur ada yang mengenali sejumlah oknum kelompok pemuda yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan. Dan saat para korban menjalani perawatan medis usai pengeroyokan, mereka juga didatangi dua orang. Satu orang bernama Arik, mengaku sebagai Kepala Dusun. Dan lainnya bernama Juni, mengaku sebagai perwakilan pemuda terduga pelaku pengeroyokan.

“Foto-foto mereka ikut kita lampirkan, untuk memudahkan kinerja kepolisian,” katanya.

Sebelumnya, Kanit Reskrim Polsek Purwoharjo, Ipda Agus Suhartono, mengakui jika para korban sudah mengadu ke SPKT Polsek Purwoharjo, pada Kamis 7 Mei 2020. Namun menurutnya, saat itu belum dibuatkan laporan.

“Memang sudah ke SPKT, namun belum dibuatkan laporan karena kita mendahulukan visumnya,” ucapnya.

Menurutnya, kebijakan mendahulukan visum dilakukan mengingat para korban baru mengadu 4 hari setelah kejadian.

“Luka sudah kering, cepat-cepat tak suruh visum,” cetus Agus.

Dia juga menjelaskan, undangan kepada para korban untuk datang ke Polsek Purwoharjo, pada Senin 11 Mei 2020, memang tidak dilakukan secara prosedural. Atau tidak menggunakan surat undangan resmi lembaga kepolisian. Melainkan hanya melalui lisan.

“Tidak menggunakan surat karena sudah ketemu dan kita suruh mencari saksi, dikarenakan lapor waktu itu hari Kamis tanggal merah, jadi kita suruh datang Senin,” ujarnya.

Menurut Agus, berbagai upaya tersebut sengaja dilakukan lantaran para korban tidak hafal siapa pelaku pengeroyokan. Dan terkait permintaan surat pengaduan ulang, Agus mengatakan, karena sebelumnya para korban dinilai belum pernah membuat pengaduan. 

“Jadi selama 2 minggu tidak ada tindakan itu bukan pembiaran. Tapi kita mau menghubungi (para korban) tapi tidak punya nomor teleponnya. Tadi malam sempat cari surat pengaduan tapi juga tidak ada,” ungkapnya.

Atas kejadian ini, MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, meminta Polsek Purwoharjo, agar segera melakukan tindakan sesuai prosedur hukum dan per Undang-Undangan yang berlaku. Mengingat aksi pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh puluhan pemuda Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, sudah mengarah pada perbuatan pidana. 
Dan telah membuat para korban mengalami luka serius fisik serta trauma psikis. Jika dibiarkan, dikhawatirkan aksi kekerasan dan tindakan menjurus pidana akan menjadi tradisi dikalangan masyarakat. Yang selanjutnya berpotensi menimbulkan gangguan kondusifitas dan stabilitas keamanan di Banyuwangi.(red)

loading...

News Feed