oleh

Nelayan dan Jawara Tuding Anies Baswedan Pembohong

BERTA9, JAKARTA – Keputusan Anies Baswedan memberikan ijin reklamasi Kawasan Teluk Jakarta di Ancol, dituding sebagai keingkaran janji Anies semasa kampanye Pilgub lalu.

Relawan Jaringan Warga (Jawara) Tim pendukung Anies-Sandi saat Pilkada DKI Jakarta 2017, mengaku sangat kecewa atas sikap Anies yang ternyata pro pada kegiatan reklamasi.

Seperti diketahui, Anies mengeluarkan Keputusan Gubernur Nomor 237 Tahun 2020 tentang Izin Pelaksanaan Perluasan Kawasan Rekreasi Dunia Fantasi (Dufan) seluas 35 hektare dan Kawasan Taman Rekreasi Taman Impian Ancol Timur Seluas 120 hektare yang ditandatangani pada 24 Februari 2020 lalu.

“Kita dulu dukung Anies Sandi karena salah satunya jargon kampanye yang paling utama adalah menolak reklamasi. Tapi kenyataannya, keluarnya Kepgub 237 ini sama saja mengingkari janji dan membohongi kami,” ujar Koordinator Jawara, Sanny Irsan kepada awak media di Pantai Timur Ancol, kawasan wisata Ancol Taman Impian, Ahad (5/7/2020).

Kata Sanny, alasan Anies yang menyebut di lahan reklamasi Ancol akan dibangun masjid dan Museum Rasulullah sangat tidak tepat. Baginya, itu hanya alasan belaka untuk pembenaran reklamasi di Teluk Jakarta.

“Jangan digiring dengan sentimen agama. Kami sudah melihat desainnya, nanti akan banyak berdiri bangunan komersial termasuk apartemen,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Nelayan Jakarta, M Taher menyatakan, Pemprov DKI Jakarta selalu berkilah dengan perkataan yang menyesatkan.

Anies mengatakan bahwa reklamasi Ancol dengan menyambung daratan dan bukan berbentuk pulau sendiri dianggap bukan sebagai reklamasi, dinilai Taher sebagai permainan bahasa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

“Dimana-mana yang namanya lautan dijadikan daratan ya sebutannya reklamasi. Jika reklamasi Ancol dijalankan maka pulau lainnya ke depannya akan seperti itu. Ini akan berdampak besar pada masyarakat nelayan dan pesisir,” ujar Taher.

Pria yang sudah tiga generasi menjadi nelayan di Teluk Jakarta ini mengaku siap untuk menggalang seluruh kelompok nelayan pesisir di DKI Jakarta apabila Pemprov DKI Jakarta tetap menjalankan reklamasi di Ancol. Ia juga menyebutkan para nelayan di Teluk Jakarta tidak pernah diajak bicara perihal reklamasi di Ancol.

“Jika tetap dipaksakan kami siap melakukan gerakan melawan, dan berkonsolidasi dengan seluruh nelayan di Jakarta. Dari Kapuk Kamal sampai Marunda kami simpul. Jadi jangan main-main. Sejak dahulu kami sudah berdarah-darah menolak reklamasi. Kami kecewa amanah janji kampanye menolak reklamasi tidak dilaksanakan,” tegas Taher.

“Dan yang mengherankan ini diputuskan di saat situasi gelap dimana kita sedang dilanda pandemi Covid-19. Seharusnya yang dibuatkan Pemprov DKI adalah pelabuhan untuk nelayan kecil dengan ukuran kapal di bawah 5 GT jika memang benar-benar memihak masyarakat miskin,” tandas Taher. (red)

loading...

News Feed