Menelusuri Jejak Kasus, Siapa Sebenarnya Calo PNS di Nias

  • Bagikan
Ruang kerja Fajar Waruwu di DPRD Provinsi Sumut (foto dok)

BERITA9, JAKARTA – Fajar Waruwu mungkin tak menyangka, baru saja memasuki tahun 2016 lalu, dirinya sudah menyandang gelar baru, bukan gelar adat atau akademisi, tapi gelar tersangka yang labelkan Polres Nias, Sumatera Utara. Apa pasalnya? Waduh ternyata Fajar beserta istrinya dituduh sebagai penipu percaloan pegawai negeri sipil (PNS). Kerugian korban menurut versi polisi sebanyak Rp 4,8 milyar.

Adalah  Elikana Hia Alias Ama Wewi, Sowa’a Laoli alias Ama Mulia, Adrianus Zega alias Ama Inggrid dan Hiburan Halawa alias Ama Ian ke Polres Nias sesuai laporan tanggal 24 Juni 2015 dengan nomor LP/225/VI/2015/NS. Sowa’a Laoli yang melaporkan Fajar saat itu masih menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Gunungsitoli, namun saat ini yang bersangkutan menduduki jabatan sebagai Wakil Walikota Gunungsitoli.

Dalam berkas laporan ke polisi, pelapor mengaku mengalami kerugian yang tidak sedikit, Elikana Hia lenyap uang sebanyak Rp 1,5 milliar, Adrianus Zega Rp 1,78 milliar, Sowa’a Laoli kerugian sebesar Rp 800 juta dan Hiburan Halawa Rp 747 juta.

Polres Nias pun bertindak sigap, usai menjalani berbagai proses pemeriksaan, akhirnya penyidik Polres Nias terhitung sejak tanggal 28 September 2015 melabelkan Fajar dan istrinya sebagai tersangka.

Fajar yang merasa tidak bersalah melakukan perlawanan dengan mengajukan praperadilan tanggal 19 Januari 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Gunungsitoli. Sayang, permohonannya ditolak oleh PN Gunungsitoli pada putusannya yang ditetapkan pada tanggal 25 Januari 2016 lalu.

Proses pun bergulir, sampai-sampai tim Kepolisian Daerah Sumatera Utara mesti turun tangan langsung guna memastikan berkas perkara sesuai prosedur. Selama kasus masih ditangani Polres Nias, beberapa kali penyidik gagal menyerahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Tidak dijelaskan, mengapa berkas mesti tertunda-tunda terus. Namun kabarnya, berkas Fajar telah diserahkan polisi ke JPU Kejari Gunungsitoli.

Atas perbuatannya, FW dijerat dengan pasal 378 subsider 372 junto 55 dan pasal 56 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.

Rekam Kasus 

Kasus penipuan yang diduga dilakukan Fajar sebenarnya bukan barang baru, sudah banyak polisi membongkar praktek ilusi itu. Tidak sedikit pelakunya merupakan orang yang memiliki jabatan atau memiliki pengaruh dilingkungan sekitar, seperti Fajar misalnya yang saat ini menduduki kursi anggota DPRD Provinsi Sumut. Modus yang mereka lakukan juga kebanyakan mengiming-imingi dapat memperlancar seseorang mendapat pekerjaan, tapi tentunya tidak gratis, harus ada gelontoran uang yang disetor guna memperlicin aksi mereka.

Ada sisa pertanyaan yang belum terungkap ke public, benarkah ia bertindak tunggal dengan bantuan hanya istrinya saja? Apakah modus Fajar menjadi calo penerimaan PNS yang dilakukan secara massif itu berdiri sendiri? Siapa korban sebenarnya dari praktek kotor yang dilakukan Fajar?

Yang terungkap kepermukaan selama ini hanyalah laporan yang dilakukan oleh empat orang yakni, Sowa’a Laoli, Elikana Hia, Adrianus Zega dan Hiburan Halawa. Keempatnya mengaku sebagai korban, pertanyaannya, apakah mungkin keempatnya melamar pekerjaan sebagai PNS, sementara diketahui keempatnya merupakan orang-orang yang memiliki pekerjaan terhormat, siapa korban sesungguhnya?

Segumpal pertanyaan masih banyak tersimpan, guna menjawabnya, tim BERITA9 turun langsung ke Kota Gunungsitoli menelusuri siapa korban sebenarnya. Tim juga mewawancarai Fajar, sementara pihak Polres Nias menolak memberikan keterangan. Selain Fajar, tim juga menemui pejabat utama di Polda Sumut dan Kejaksaan Tinggi Sumut, semua akan tertuang dalam edisi selanjutnya….. (tim)

  • Bagikan