oleh

Meluruskan Alur Pemikiran Ekonomi Bung Hatta – Bag 1

Jika kita menengok kembali ke peristiwa yang terjadi di tahun 1966 y.l., dimana bangkitnya kesadaran: Mahasiswa (KAMI); Pemuda Pelajar (KAPPI) dan Pemuda (KAPI) untuk melaksana-kan UUD ’45 secara murni dan konsekuen (karena sudah terjadi penyelewengan pelaksanaan UUD ’45, diantaranya adalah pengangkatan Bung Karno menjadi Presiden RI seumur hidup).

Akibatnya, kehidupan ekonomi nasional cukup memprihatinkan. Salah satu motto yang populer diwaktu itu adalah “politik no, ekonomi yes” dan  seiring dengan peristiwa itu Pemimpin Nasional beralih kepada Suharto, dimana kebijakan pembangunan ekonomi ditangani oleh Prof. DR. Widjojo Nitisastro Cs. Kita sebagai keluarga angkatan ’66 diwaktu itu kembali melanjutkan kegiatan masing-masing termasuk melanjutkan studi yang sempat stagnan beberapa sa’at.

Di waktu itu posisi ekonomi Indonesia adalah sbb:
1. hutang luar negeri Indonesia berjumlah US $ 2,5 Milyard;
2. kayu di hutan masih tegak lurus;
3. gunung emas di papua masih menjulang tinggi dan juga yang berada di beberapa tempat lainnya;
4. deposit migas masih belum tersentuh (kecuali caltex yang sudah ada sebelum kemerdekaan RI);
5. Beberapa bahan bahan tambang dan mineral lainnya yang tersebar diseluruh pelosok nusantara, masih tersimpan utuh di tempatnya masing-masing.

Selain daripada itu, kehidupan ekonomi masyarakat memang terasa sulit; tapi nuansa kemiskinan tidak begitu terasa.

Kini di tahun 2015 sekarang ini, artinya sudah hampir 50 tahun peristiwa 1966 berlalu dan sudah hampir 50 tahun kebijakan ekonomi ala Prof. DR. Widjojo Nitisastro cs. diterapkan; namun fakta perekonomian nasional berada pada posisi yang sangat menyedihkan, dimana:
1. Hutang luar negeri lebih dari US $ 300 Milyard;
2. Kayu di hutan sudah tandus;
3. Gunung emas di papua yang tadinya menjulang tinggi ke angkasa, sekarang sudah menjadi  danau; begitu juga dengan deposit emas dibeberapa tempat lainnya sudah semakin menipis.
4. Minyak bumi yang tadinya Indonesia tercatat sebagai negara pengekspor, sekarang berubah menjadi negara pengimpor. Gas alam sudah mulai berkurang secara signifikans.

Beberapa jenis bahan tambang lainnya juga sudah semakin menipis.
Selain daripada itu rakyat (Buruh, Petani dan Nelayan) semakin terperangkap ke dalam lilitan kemiskinan. Untuk mengatasi kehidupan yang semakin sulit tersebut, maka mereka melakukan pekerjaan apa saja (sekalipun tidak layak untuk martabat kemanusiaan) seperti: tukang ojeg (motor, sepeda dan payung); pemulung; bahkan ada yang rela “memperhambakan dirinya” di negara lain yaitu TKW. Negara seakan-akan tidak hadir di tengah-tengah rakyatnya.

Jika diperbandingkan antara posisi ekonomi Indonesia di awal pemerintahan Suharto (1966) dan posisi ekonomi Indonesia sekarang ini (2015), siapapun tidak akan berani membantah bahwa perekonomi Indonesia mengalami kemunduran yang sangat luar biasa. Fakta ini membuktikan bahwa “sistim ekonomi” yang dipraktekkan oleh Widjojo Nitisastro cs. dan generasi penerusnya hingga sa’at ini “tidak hanya gagal”, melainkan lebih jauh lagi dari itu yaitu semakin menggiring bahagian terbesar dari rakyat Indonesia (Buruh, Petani dan Nelayan) terperosok ke dalam jurang kemiskinan.

Sekarang ini, sesungguhnya Bangsa Indonesia sudah terbelah menjadi dua golongan yaitu:

Golongan Pertama, si Kaya yang terdiri dari kelompok: Pengusaha dan Penguasa. Mereka inilah kelompok yang diuntungkan (menikmati) dari “sistim ekonomi pasar” yang diterapkan selama ini (sudah hampir 50 tahun).

Golongan Kedua, si Miskin yang terdiri dari kelompok: Buruh, Petani dan Nelayan. Mereka menjadi “kuda tunggangan” Golongan Pertama. Tidak cukup hanya sampai disitu; “hak-hak ekonomi mereka” yang nyata-nyata sudah ditetapkan secara konstitusional dalam Pasal 33 ayat: 1, 2 & 3 UUD ’45 pun juga dirampas oleh Golongan Pertama.

Sekarang ini, wajah perekonomian Indonesia jika diumpamakan:
Sebagai sosok seorang manusia; maka manusianya adalah yang sedang mengidap dua jenis penyakit kronis yaitu:

1. Leukimia (kanker darah), dimana sel darah putih memakan sel darah merah. Ini menggambarkan: si Kuat memakan si Lemah.
2. Lepra (kusta), dimana sekalipun jari jemarinya sudah lepas (copot), namun mukanya tetap senyum. Ini menggambarkan hubungan aspirasi antara pemimpin dan rakyatnya sudah mati rasa.

Sebagai sebatang pohon, maka pohonnya ditumbuhi benalu; dimana dari kejauhan pohon tersebut kelihatannya hijau dan rimbun, tapi jika dilihat dari dekat ternyata yang hijau dan rimbun itu adalah benalu sedangkan pohonnya sendiri “meranggas”.

Oleh : Chairulhadi M. Anik – Dosen Tetap FE Universitas Trisakti

loading...

News Feed