oleh

Mana Yang Benar, Pengakuan Kadus Arik Vs Korban Soal Kasus Pengeroyokan Patrol Sahur di Banyuwangi

BERITA9, BANYUWANGI – Kepala Dusun (Kadus) Arik Asdiyanto, mengakui bahwa dirinya menemui para peserta patrol sahur keliling korban pengeroyokan puluhan pemuda didesanya, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Minggu dini hari, 3 Mei 2020 lalu. Namun, terkait kejadian pengeroyokan, dia tidak tahu menahu.

“Saya ada yang ngasih tahu, saat itu saya sedang Pos Kamling. Ngasih tahunya langsung tidak lewat telepon, tapi saya lupa siapa orangnya,” ucapnya kepada Wartawan, Jumat (29/5/2020).

Selang beberapa menit, lanjutnya, Arik bertemu dengan Dedi, warga Dusun Curah Palung, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo. Dia adalah teman dari para korban pengeroyokan sekaligus kenalan si Arik.

“Dia (Dedi) bercerita bahwa teman-temannya habis dikeroyok oleh pemuda Desa Glagahagung. Agar tidak terjadi saling dendam, Dedi minta saya datang ke klinik untuk berkomunikasi dengan para korban,” katanya.

Seperti diketahui, pasca dikeroyok, para korban langsung menjalani perawatan di Klinik Pratama Mitra Keluarga, Tegaldlimo. Dua diantaranya mengalami luka bocor dikepala hingga membutuhkan tiga jahitan dan enam jahitan.

Diklinik, Kadus Arik mengaku telah membuat kesepakatan damai bersama para korban dan sejumlah teman korban.

Menurutnya, saat itu semua telah menyatakan legowo dan tidak akan menempuh jalur hukum. Asal biaya pengobatan dan perbaikan kerusakan pada kendaraan diganti. Lalu para korban diberi uang Rp 400 ribu. 
Dengan rincian, Rp 300 ribu untuk biaya pengobatan dan Rp 100 ribu untuk biaya perbaikan kopling sepeda motor milik korban. Sebagai saksi perdamaian, Arik juga mengundang hadirkan dua perwakilan pemuda Desa Glagahagung, Juni dan Yudi.

“Sayangnya saat itu kita tidak merekam video. Saat kita minta untuk dibuat surat pernyataan damai, mereka (para korban) menolak, karena kondisi sudah dini hari dan sudah tidak ada toko yang buka untuk beli kertas dan bolpoin. Akhirnya semua menyatakan sepakat damai dan tidak perlu surat pernyataan,” ungkapnya.

Kepada awak media, Arik juga mengakui bahwa dia telah mengamankan telepon selular milik Yoga, warga Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring. Dia adalah teman korban pengeroyokan. Saat patrol sahur keliling, HP nya dititipkan kepada Heru Andhika Putra, salah satu korban. Dan saat pengeroyokan terjadi, HP terjatuh dilokasi kejadian.

“Iya, HP saya yang bawa, tapi yang ngasihkan siapa saya lupa. Selang beberapa menit datang dua pemuda ambil HP, yang satu pemuda sini. Tapi saya lupa nama pemuda sini yang antar, tapi hafal wajahnya,” cetus Arik.

Disebutkan, sebagai upaya mengungkap siapa pelaku pengeroyokan, dia sempat mengumpulkan puluhan pemuda Desa Glagahagung. Tapi semua mengaku tidak tahu menahu.

“Setelah semua pulang saya juga tanya ke perawat klinik, katanya luka para korban juga hanya luka ringan, luka kulit saja. Kalau luka berat kan pasti harus dirujuk atau biaya perawatan mahal,” ujar Arik.

Sementara itu, pengakuan para korban cukup bertolak belakang dengan penjelasan Kadus Arik. Salah satunya terkait kesepakatan damai. Menurut Heru, sapaan akrab Heru Andhika Pratama, dia bersama para korban yang kini melapor ke Polsek Purwoharjo, tidak tahu menahu tentang kesepakatan damai tersebut.

Dan kesepakatan damai dicetus bukan atas persetujuan beserta tiga korban pelapor lainnya.

“Setahu saya pak Kadus itu bicara dengan mas Dedi dan Dimas, teman saya, sedang saya masih berada didalam klinik, menjahit luka. Mereka ngobrolnya juga dipinggir jalan, sedang saya setelah dirawat duduk dikayu jati didepan klinik, dan tahu-tahu semua bilang sudah damai,” ungkapnya.

Menurut Heru beserta tiga korban pelapor lainnya, jika memang Kadus Arik memang beriktikad damai, seharusnya meminta persetujuan para korban.

“Belakangan sayu baru tahu juga, kedatangan Juni dan Yudi, atas panggilan pak Kadus Arik itu memang atas permintaan mas Dedi. Mas Dedi minta jika ingin bersepakat damai, Kadus Arik harus memanggil perwakilan pemuda yang telah melakukan pengeroyokan, lalu dia manggil Juni dan Yudi,” katanya.

Heru juga membantah pengakuan Arik yang menyebut bahwa penyebab tidak dibuatnya surat pernyataan damai lantaran tidak ada toko buka untuk beli kertas dan bolpoin. Karena saat itu toko didepan Klinik Pratama Mitra Keluarga, Tegaldlimo, masih buka.

“Itu tidak benar jika bilang tidak ada toko buka, didepan klinik toko masih buka kok,” cetusnya.

Terkait besaran uang yang diberikan oleh Kadus Arik, menurut Heru, juga hanya Rp 300 ribu. Yang selanjutnya digunakan untuk biaya pengobatan Rp 175 ribu dan sisanya untuk biaya perbaikan kopling motor milik Frandi, korban lain.

Pengakuan Arik terkait pengambilan HP milik Yoga juga dianggap tidak sesuai kenyataan. Karena saat itu Yoga datang dengan diantarkan Dedi, teman korban yang juga peserta patrol sahur keliling. Dan bukan ditemani perwakilan pemuda Glagahagung.

“Yang benar, saat saya (Yoga) ambil HP, itu diantar mas Dedi, lalu datang dua pemuda Glagahagung, adik kakak, si kakak marah-marah karena adiknya luka bocor kepala. Padahal luka bocor itu karena teman dia sendiri, wong saat pengeroyokan mereka tidak pakai tangan saja, tapi juga pakai batu. Lalu kedua pemuda tersebut dibentak oleh Kadus Arik, suruh diam dan kasus akan diurus,” ulas Yoga.

“Itu pak Kadus Arik kenal pada pemuda yang bocor, tapi entah kenapa sekarang kok jadi lupa ingatan, semoga pak polisi tidak percaya begitu saja,” imbuhnya.

Keterangan para korban, saat pengeroyokan terjadi, juga terdapat pemuda bernama A’al, yang memegangi Dedi agar tidak melerai. A’al adalah pemuda Desa Glagahagung, sekaligus teman si Dedi. Dan alasan dia mencegah untuk tidak melerai agar Dedi tidak ikut menjadi sasaran pengeroyokan. Mengingat pelaku pengeroyokan jumlahnya puluhan.

Kasus pengeroyokan terhadap peserta patrol sahur keliling di Desa Glagahagung, ini telah dilaporkan ke Polsek Purwoharjo, Banyuwangi. Guna penanganan, polisi telah memanggil sejumlah saksi, termasuk Kadus Arik Asdiyanto. (red)

loading...

News Feed