oleh

Klarifikasi Menag, Kalau Ada Kepastian Berangkat, Calon Haji Wajib Karantina 28 Hari

BERITA9, JAKARTA – Menteri Agama RI (Menag), Fachrul Razi memberikan klarifikasi terkait pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun 2020 yang diputuskan lembaganya beberapa saat lalu.

Dalam klarifikasinya dengan media Medcom, Fachrul Razi mengatakan, jika ada kepastian keberangkatan dari pemerintah Arab Saudi, maka calon Jamaah Haji tahun 2020 harus dikarantina selama 28 hari.

Jikapun ada, maka idealnya para jamaah calon haji idealnya kloter pertama berangkat pada 26 Juni 2020.

“Proses karantina yang harus dilakukan para calon jamaah haji yakni 14 hari sebelum berangkat ke Saudi dan 14 hari setelah sampai di Saudi,” ujarnya Fachrul Razi, Ahad (7/6/2020) disesi wawancara dengan Medcom.

Baca Juga : Berpolemik Dengan Komisi VIII, Menag : Salahkan Saya, Jangan Kemenag

Selain, itu jika ada kepastian juga kemungkinan hanya setengah dari kuota calon Jemaah haji yang boleh berangkat.

“Mungkin juga tidak bisa berangkat juga, mungkin juga hanya setengah yang diperbolehkan berangkat dan dipastikan kesehatannya,” katanya.

Terkait biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) Manag menjelaskan dana yang bisa ditarik oleh calon Jemaah haji adalah dana yang sudah dibayarkan untuk melunasi biaya haji tahun ini, jika memang calon jamaah haji sangat memerlukannya.

Jika calon Jemaah haji menarik setoran awal dari Bipih, maka calon Jemaah haji tersebut harus mengulang antrian pemberangkatan haji dari awal, sehingga tidak bisa diberangkatkan tahun depan.

“Ada prosedurnya, kalau akan menarik (Bipih) membuat surat pernyataan tertulis kepada Kemenag di pemerintah Kabupaten/Kota,” ujarnya Fachrul Razi.

“Harus ada KTP, harus ada surat kuasa yang mengambil, Kemenag kabupten/ kota akan menkonfirmasi dan melakukan prosedur. Kalau kami hitung-hitung sekitar 10 hari dana bisa cair,” lanjutnya. (red)

loading...

News Feed