oleh

Ini Pesan Kyai Said Aqil Dipenutupan JQH NU

BERITA9, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj secara resmi menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Ahad (15/4/2018)

Dalam sambutannya, Kiai Said mengatakan, ummat harus waspada terhadap banyaknya informasi yang tidak jelas sumbernya yang tersebar di media sosial. Sikap waspada itu terkait semakin majunya tekhnologi dan kemajuan itu dianggap sebagai sebuah tantangan masa kini. Ia menyebut, begitu banyak dusta, adu domba, dan provokasi yang disebarkan oleh gerombolan yang menamakan dirinya muslim cyber army (MCA).

“Isinya hoaks, su’udzon, namimah, hamazah, lumazah. isinya pasti menjelekkan atau mengolok-olok Jokowi. Saya juga sering disrempet-srempet,” ujarnya.

Terkait isu ekonomi, Kiai Said menjelaskan, tidak ada yang salah dengan peran orang asing menanam modal di Indonesia, asalkan pembagiannya jelas, pajaknya jelas, dan batas waktunya juga jelas.

Lalu ia mencontohkan perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat, Freeport McMoran yang memperpanjang kontraknya pada batas waktu yang masih sepuluh tahun lagi, ternyata, di sana tidak saja terdapat emas, melainkan ada uranium. “Bahan-bahan nuklir yang satu kilonya harganya 3,8 trilyun,” ungkapnya.

Baca :

Pilpres 2019, PBNU Minta Nahdliyin Dukung Cak Imin Cawapres Jokowi

Keji, Ketum PBNU Difitnah Jadi Calo Tanah oleh Media Abal-Abal

Fatwa Selalu Bermasalah, PBNU Desak MUI Direformasi

Kiai asal Cirebon itu lalu menyinggung Sila Kelima di Pancasila yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indoenesia yang masih dari kenyataan. “Kalau sila yang Kelima, keadilan sosial, jeblok betul nilainya tuh,” ucapnya.

Sebagai salah satu solusinya, lanjut Kiai Said, pemerintah membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang diketuai oleh Yudi Latif, Kiai Said di situ menjadi salah satu anggotanya. Unit itu dibentuk salah satunya adalah untuk memperkuat Pancasila dengan peningkatan transformatif tindakan nyata yang tidak hanya dipaksakan. “Antara lain, mengimplementasikan sekuat mungkin sila yang Kelima,” ujar Kiai Said.

Bicara soal toleransi, kata Kiai Said, sudah terwujud di Indonesia. Beda suku, beda agama, beda budaya, tetapi tetap dalam utuh dalam kesatuan Indonesia. “Yang belum toleran itu soal Ekonomi,” ungkapnya.

Terkait adanya sekelompok orang yang mengidolakan orang-orang Arab, dalam pandangan Kiai Said, jika dilihat secara individunya pintar-pintar. Ia pun menyebut beberapa nama, seperti Hossein Nasr, Kamel Jumblat, Walid Jumblat, dan lain-lain. Tapi jika dilihat secara keseluruhan amburadul.

“Di Arab ini, manusia gagal membangun hidup bersama, gagal membesarkan, dan gagal bernegara,” katanya. Beda dengan orang Indonesia, meskipun keilmuan tidak seberapa, tetapi untuk kebersamaan masih lebih baik. “Ngatur kebersatuan tuh bisa,” ucapnya.

Dengan kegagalan Arab itu, masyarakat muslim dunia melihat Islam di Indonesia berharap agar Indonesia benar-benar bisa tampil dipentas dunia. (*)

Sumber : NU Online

loading...

News Feed