oleh

Proyek Jembatan Wiroguno Tegalsari Banyuwangi Diduga Ada Praktik Pinjam Bendera

BERITA9, BANYUWANGI – Fakta baru terkuak dalam proyek pembangunan jalan jembatan Wiroguno, di Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi. Diduga proyek dibawah naungan Dinas PU Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman Banyuwangi, senilai Rp 2,86 M tersebut terdapat praktik ‘Pinjam Bendera’.

Seperti diketahui, proyek senilai Rp 2,86 M dari anggaran APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2020 ini dimenangkan oleh PT Bintang Surya Tunas Mandiri (Sebelumnya ditulis PT Bangun Surya Tunas Mandiri). Namun kenyataan dilapangan, serta keterangan sejumlah kontraktor di Banyuwangi, proyek pembangunan jalan jembatan Wiroguno, dikerjalan oleh pihak lain. Yakni oleh gerbong H Tras.

“Iya, itu pinjam bendera,” ucap J, salah satu kontraktor di Banyuwangi, Kamis (8/10/2020).

Kepada wartawan Kepala Dinas PU Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman Banyuwangi, Danang Hartanto, membantah jika terdapat praktik ‘Pinjam Bendera’ pada proyek pembangunan jalan jembatan Wiroguno.

“Gak ada, kita kontrak dengan Direktur PT Bintang Surya Tunas Mandiri,” katanya.

Sementara itu, H Tras juga menolak jika dirinya disebut ‘Pinjam Bendera’ PT Bintang Surya Tunas Mandiri, dalam proses lelang proyek pembangunan jalan jembatan Wiroguno. Namun dia mengakui bahwa dirinya menjadi Sub Kontraktor. 
Atau menjadi pihak ketiga yang menandatangani kontrak kerja dengan PT Bintang Surya Tunas Mandiri, selaku pemenang tender. Yang selanjutnya menjadi pelaksana seluruh pekerjaan proyek.

“Kita Sub Kon dan sudah sesuai procedural. Kontrak procedural ada semua dengan PT Bintang Surya Tunas Mandiri,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, Ketua MPC Pemuda Pancasila Banyuwangi, Zamroni SH, mengaku mencium aroma kejanggalan. Pertama, dia menduga ada praktik pengkondisian dalam proses lelang proyek pembangunan jalan jembatan Wiroguno.

“Nilai proyek ini Rp 2,86 M, artinya bukan proyek raksasa. Kenapa PT Bintang Surya Tunas Mandiri ikut lelang jika tidak punya uang untuk mengerjakan, dari pada akhirnya dipihak ketigakan,” katanya.

Saat pemenang tender mempihak ketiga kan, lanjutnya, sudah pasti ada pemborosan biaya dalam pengerjaan. Karena tidak mungkin PT Bintang Surya Tunas Mandiri, tidak mendapatkan keuntungan apa pun. Disisi lain, H Tras selaku Sub Kontraktor, juga harus untung juga.

“Lalu efisiensi anggarannya dimana. Bagaimana pula nanti kualitas pekerjaan jika anggaran proyek harus memenuhi dua pos keuntungan. Ini harus digaris bawahi,” cetus Zamroni.

Yang kedua, masih Ketua Pemuda Pancasila, terindikasi ada praktik ‘Pinjam Bendera’ pada proyek jalan jembatan Wiroguno, Dinas PU Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman Banyuwangi ini. Dan praktik ‘Pinjam Bendera’ jelas melanggar tiga ketentuan. Yakni melanggar prinsip dan etika pengadaan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 dan 7 Perpres No 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah. 

“Pasal 7 mengharuskan semua pihak yang terlibat Pengadaan Barang atau Jasa mematuhi etika, termasuk mencegah pemborosan dan kebocoran keuangan negara,” ujarnya.

Termasuk melanggar larangan membuat dan memberikan pernyataan tidak benar atau memberikan keterangan palsu. Sesuai yang diamanatkan dalam Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang atau Jasa (LKPP) No 9 Tahun 2019. 

Serta menabrak larangan mengalihkan seluruh atau sebagian pekerjaan kepada pihak lain. Sebagaimana diatur dalam Peraturan LKPP No 9 Tahun 2018 tentang Pedoman Perencanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah.

“Dan sejumlah putusan pengadilan pun sudah menghukum penyelenggara negara atau perusahaan yang melakukan penyimpangan dalam Pengadaan Barang atau Jasa. Termasuk dalam praktik ‘Pinjam Bendera’ perusahaan lain, tapi gak tau lagi jika di Banyuwangi punya hukum sendiri yang mengizinkan praktik itu,” ulas Zamroni.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah polemik terjadi di proyek pembangunan jalan jembatan Wiroguno, di Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi. Pemenang tender, PT Bintang Surya Tunas Mandiri, molor dalam pengerjaan. Yang seharusnya dimulai sejak 9 September 2020, baru digarap sekitar awal bulan Oktober 2020.

Dan pada Jumat, 2 Oktober 2020, kecelakaan kerja yang fatal terjadi. Diduga karena tidak dilengkapi alat keselamatan, 3 orang pekerja proyek asal Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, tersengat arus listrik tegangan tinggi saat sedang memindahkan tiang LPJU. Akibatnya, 1 orang pekerja atas nama Diki Wahyudi (22) tewas. Sedang 2 orang lainnya, Deni Darmawan (26) dan Jaya (30) mengalami luka ringan. (red)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed