oleh

Warga Medan Mengaku Diperas Oknum Wakapolsek, Begini Kronologinya

BERITA9, MEDAN – Kasus pemerasan yang dialami Muhammad Jefri Suprayudi berbuntut panjang. Korban bersama pengacaranya melaporkan secara resmi kasus tersebut ke Direktorat Profesi dan Pengamanan (Dit Propam) Mabes Polri dengan surat pengaduan Nomor : SPSP2/3419/XI/2020/BAGYANDUAN tanggal 27 November 2020.

“Klien saya diperas Rp 200 juta oleh Wakapolsek Helvetia AKP DK dan kami sudah membuat laporan ke Mabes Polri dan diteruskan ke Polda Sumut,” kata pengacara korban Roni Prima Panggabean.

Kepada wartawan Roni Prima Panggabean menyebut Propam Polda Sumut masih belum bergerak dan nilainya loyo.

“Bagaimana hukum di Polda Sumut ini, sampai dengan saat ini belum ada tindak-lanjut yang dilakukan,” kata Roni Prima Panggabean saat ditemui di Mapolda Sumut, Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Selasa (15/12/2020).

Ia kemudian meminta Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin bertanggung jawab. Menurutnya, kejadian ini sudah sangat merusak citra Polri. “Kapolda harus bertanggung jawab karena kasus pemerasan ini,” ungkapnya.

Kronologi pemerasan

Korban Muhammad Jefri Suprayudi menjelaskan kejadian berawal saat dia sedang nongkrong di Mega Park pada 11 September 2019. Ia dihampiri oleh beberapa oknum polisi dari Polsek Helvetia dengan tuduhan membawa narkotika jenis sabu.

Karena tidak terbukti membawa narkoba, kemudian oknum polisi tersebut meminta Jefri Suprayudi menunjukkan surat mobilnya bermerek Pajero Sport.

“Saya tunjukkan suratnya, dan mereka tidak terima dan langsung bawa saya ke polsek,” jelasnya.

Saat berada di Polsek Helvetia, petugas kembali melakukan pemeriksaan dengan meminta melepaskan seluruh pakaian. Tak terbukti pengguna dan pengedar narkoba, Jefri mengatakan oknum mencari masalah lain, agar ia bisa ditetapkan sebagai tersangka. Ia pun dituduhkan pemalsuan dokumen kendaraan bermotor Pajero Sport miliknya.

Diakuinya, bahwa mobil Pajero Sport yang dikendarainya tersebut tidak mengenakan plat kendaraan asli.Namun, ia memastikan kendaraan tersebut tidak bodong. Setelah berstatus tersanga, Jefri heran melihat sikap aparat Polsek Helvetia yang malah meminta dia menyerahkan uang Rp 400 juta.

Uang tersebut agar Jefri bisa bebas dari masalah pemalsuan dokumen, namun korban menolak karena tidak memiliki uang sebanyak itu. Lalu, masih kata Jefri, oknum Wakapolsek itu menurunkan angkanya dari 400 juta menjadi 200 juta.

“Saya berikan uang 200 juta langsung cash kepada Wakapolsek,” terangnya. Usai menyerahkan uang Rp 200 juta itu, ia bertambah kesal karena HP miliknya dipergunakan chating dengan orang lain. Mobil Pajero Sport yang disita polisi pun dipergunakan untuk kepentingan pribadi.

Kini, ia berharap agar Polda Sumut, melalui Bidang Propam dapat segera melakukan pemeriksaan terhadap oknum Polsek Helvetia yang melakukan pemerasan terhadapnya.

Ditemui terpisah, Kabid Propam Polda Sumut, Kombes Pol Donal Simanjuntak membenarkan bahwa pihaknya tengah memeriksa dua oknum perwira dan satu penyidik Polsek Helvetia, terkait dugaan pemerasan, Selasa (15/12/2020).

“Benar, ada kita periksa mereka terkait dengan pemerasan,” kata Kombes Pol Donal Simanjuntak , saat ditemui di Mapolda Sumut, Selasa (15/12/2020).

Ia mengatakan, pemeriksa ini dilakukan berdasarkan adanya laporan dari keluarga korban. “Ada laporan, dan kita panggil mereka,” ucapnya.

Sampai dengan saat ini, tim tengah melakukan pemeriksaan terhadap ketiga personel Polsek Helvetia tersebut. Bila terbukti, akan ada sanksi terhadap ketiga oknum tersebut.

Namun, Donal belum mau membeberkan sanksi apa yang akan dikenakan kepada ketiga oknum polisi tersebut. “Nanti kita lihat, apakah terbukti, akan ada sanksi yang kita berlakukan kepada mereka,” ujarnya. 

Dua perwira tersebut yakni Ipda MTHL, Ipda RM, dan KHS (penyidik). Sebelumnya, pihak JP melalui kuasa hukumnya telah melaporkan kasus tersebut ke Divisi Profesi dan Pengembangan (Divpropam) Mabes Polri terkait dugaan tindak pidana perampasan dan pungutan liar.

Laporan itu tercatat dengan Nomor Laporan SPSP2/3419/XI/2020/BAGYANDUAN yang ditandatangani Ipda Tomy Andriyadi tertanggal 27 November 2020. (red)

loading...

News Feed