oleh

Soal Pembuangan Limbah Pabrik ke Laut, DLH Banyuwangi Sebut Pabrik di Muncar Belum Ada IPCL

BERITA9, BANYUWANGI – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi menyebut pabrik pabrik diwilayah Kecamatan Muncar tidak memilik IPLC (Izin Pembuangan Limbah Cair).

Hal tersebut disampaikan oleh Khusnul Khotimah, Kepala DLH Kabupaten Banyuwangi saat dikonfirmasi oleh wartawan melalui sambungan telefon selulernya.

“Pabrik – pabrik di Kecamatan Muncar belum ada IPLC,” tegasnya.

Masih Khusnul Khotimah, Pabrik yang di Muncar belum ada yang punya IPLC laut, bagi perusahaan yang outletnya langsung laut, Karena harus ada kajian dulu tentang itu.

“Bagi perusahaan outletnya langsung kelaut belum mengantongi IPLC, karena harus ada kajianya dulu tentang itu,” ucap dia.

Diberitakan sebelumnya, Pabrik atau perusahaan pengalengan dan Penepungan ikan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi diduga membuang limbah ke laut. Akibat ulah pabrik pabrik nakal tersebut ekosistem biota laut di perairan setempat berdampak rusak dan tercemar.

“Pabrik yang agak dekat dengan laut limbahnya langsung dibuang kelaut, namun yang posisinya yang jauh dari laut pembuangannya dengan cara di Transitkan melalui sungai,” kata Asmuni warga setempat. Rabu, (31/3/2021).

Kata Asmuni, dirinya juga sangat menyayangkan sikap Pemerintah atas tidak transparannya kepada masyarakat pencari ikan di Muncar ini. Persoalan ini sudah bertahun tahun terjadi namun tidak pernah ada titik temunya.

“Seolah olah Pemerintah tutup mata, padahal setiap laporan masyarakat ini menjadi labuhanya orang Muncar namun hingga saat ini tidak pernah ada respon,” tegas Asmuni. 

Kepada wartawan Asmuni juga menjelaskan, pabrik-pabrik yang diduga membuang limbah melalui saluran menuju ke laut maupun ke sungai. Diantaranya, PT. Kama Pris, Sumber Asia, Pasifik Harvest, Hongkong, Blambangan Raya.

Selanjutnya, PT  Sari Laut, Sumberyala, Sareefid, Maya Muncar, PT. NP 1, Fising, dan PT. NP 2. Semuanya berada di wilayah Kecamatan Muncar.

“Jadi perusahaan itu diduga tidak transparan, mereka punya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah, red) atau tidak dalam pengelolaan limbahnya. Kalaupun sudah ada IPAL kan otomatis punya syarat. Disini indikasinya tidak punya IPAL, dan sebelum ada IPAL pasti ada AMDAL (Analisis dampak lingkungan, red),” tegas Asmuni saat ditemui wartawan di Pelabuhan Muncar.

Sekedar diketahui, Muncar merupakan daerah penghasil ikan terbesar kedua di Indonesia. Asmuni menyesalkan atas limbah yang dibuang ke laut ini, dampak yang lebih signifikan adalah pendapatan ikan berkurang derastis. 

Biasanya, lanjut Asmuni, para nelayan kecil hanya mencari disekitaran pesisir saja, kini harus menempuh jarak diatas lima mil dari bibir laut untuk mendapatkan hasil laut.

“Perbandingan itu sebelum dan sesudah ada pabrik lebih dari 50 persen selisihanya,” cetusnya. 

Namun sayang hingga berita ini ditulis, pemilik atau pihak pengalengan dan penepungan ikan diwilayah Muncar, Kabupaten Banyuwangi belum bisa dikonfirmasi. (*).

loading...

News Feed