Panen Melimpah, Petani Sleman Tolak Beras Impor

  • Bagikan
Seorang anggota TNI AD sedang membantu petani memanen padi di Sleman, DIY (foto imel/BERITA9)

BERITA9, SLEMAN – Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Heru Saptono menegaskan Pemkab menolak beredarnya beras impor, lantaran panen para petani di wilayah Kabupaten Sleman, pada Januari-Februari saja mencapai 26,892 ton, imbasnya stok padi di gudang surplus.

“Jadi hingga Februari 2018, terdapat kelebihan beras sebanyak 18,474 ton di wilayah Sleman,” kata Heru saat dihubungi, Jumat, (2/3/2018). Karena alasan tersebut, para petani se Kab Sleman mendesak Bupati melarang masuk beras impor.

Heru berkata, jika pun beras impor masuk ke wilayahnya, dia tidak kuasa menahannya, dikarenakan mekanisme penyaluran beras impor dilakukan oleh Perum Bulog untuk menyiapkan cadangan beras.

Menurut Heru, bulan Januari hingga Februari 2018, total ada 7,054 hektare lahan yang sudah panen di wilayah Sleman. Wilayah yang menjadi lumbung padi di Sleman tersebar di beberapa kecamatan yakni Kecamatan Minggir, Godean, Berbah dan Kalasan.

“Hasil panen ini bisa mencukupi hingga setahuan,” katanya.

Sejumlah inovasi juga sudah dilakukan Pemkab Sleman untuk menunjang produksi padi. Di antaranya menggunakan tanam jajar legowo dan mendorong petani menggunakan pupuk organik. Pihaknya memprediksi panen raya akan terjadi pada Maret hingga April 2018.

Pemkab Sleman berencana menjual beras asli Sleman ke kabupaten dan kota di dalam wilayah DIY. Sementara Dalam jangka panjang, beras akan dijual ke wilayah luar DIY.

“Beras hasil Sleman kualitasnya enggak kalah jauh dari beras Cianjur, karena sama-sama ditanam di lereng pegunungan dan perbukitan. Dalam waktu dekat kami mau coba jual beras Sleman ke aparatur sipil negeri (ASN) di wilayah Sleman. Baru nanti keluar DIY,” ujarnya. (*)

  • Bagikan