oleh

Survei Independent, Persaingan Ketat Menuju Kursi Banyuwangi 1

BERITA9, JAKARTA – Lembaga Kajian Kebijakan Publik (LKPP) melakukan survey independent tanpa melibatkan pihak ketiga dengan pembiayaan murni dari kas sendiri. Survei ini hanya mengukur perkiraan nama-nama yang selama ini santer akan diusung menjadi calon bupati Banyuwangi periode 2021-2026.

Survei perilaku memilih terhadap pemilihan kepala daerah (Pilkada) baik tingkat provinsi  maupun kabupaten/kota menjadi sangat krusial karena pemilih adalah basis legitimasi  kepemimpinan kepala daerah selama lima tahun. Alasannya, survei mempunyai efek  resiprokal alias timbal balik baik bagi kandidat kepala daerah yang memerlukan referensi  empirik-akademik untuk memantaskan diri maupun bagi pemilih yang memerlukan  penyalur kepentingan.

Ada tiga hal yang menjelaskan hal ini. Pertama, pergerakan suara terhadap kandidat kepala  daerah adalah kontrol politik bagi elit untuk melahirkan pemimpin dari publik. Kedua,  kepuasan publik (job approval rating) terhadap inkamben menjelaskan perlu tidaknya  peralihan kepemimpinan di daerah, dan lebih penting, perlu tidaknya reformasi kebijakan  pada bidang-bidang kinerja pemerintahan. Ketiga, terpilih-tidaknya kandidat kadang tidak  hanya dijelaskan oleh baik-buruknya platform program kerja muapun personalitas  kandidat, tetapi bisa sangat bergantung pada variable-variable sosiologis seperti agama  dan kedaerahan, faktor-faktor psikologis seperti personal appeal dari kandidat, maupun  memang pilihan-pilihan rasional-ekonomis dari pemilih.


Hasil Survei.

Dari sisi kedikenalan bakal calon, nama Teddy Anugrianto paling dikenal dengan meraih 89,7% yang hanya selisih satu point dengan Ipuk Festiandani 89,6%. Sedangkan ditempat ketiga diisi Munif Syafaat alias Gus Munif dengan skor 88,4%.

Dari analisa, nama Teddy lebih dominan dikalangan milenial karena selama ini Teddy dikenal sebagai penyanyi, pengusaha televise kabel dan pengusaha café serta restoran. Sedangkan Ipuk dengan status sebagai istri Bupati Banyuwangi sudah dipastikan dikenal warga.

Jika merujuk pada sisi nama yang paling disukai responden, lagi-lagi Teddy Anugrianto berada diposisi pertama dengan meraih 79,5% disusul Munif Syafaat 76,9% dan tempat ketiga diisi Yusuf Widyamoko yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Banyuwangi pada angka 76,5%. Sedangkan nama Ipuk Festiandani hanya meraih 72,7% suara.

Melihat data yang masuk, tim analisa LKKP merampingkan nama-nama bacabup-bacawabup menjadi empat nama, yakni Ipuk Festiandani, Munif Syafaat, Teddy Anugrianto dan Yusuf Widyamoko.

Responden diajukan secara spontan empat nama diatas, hasilnya, Teddy Anugrianto dipilih oleh 23,8% ditempat kedua Munif Syafaat 19,3%, ketiga Ipuk Festiandani 17,6% dan terakhir Yusuf Widyamoko 9,2%. Sedangkan responden yang tidak menjawab atau merahasiakan pilihannya bertengger pada angka 30,1%.

Tim lalu membuat simulasi dengan menampilkan empat pasang calon tanpa menyebut jabatan masing-masing calon. Kecuali pasangan Ipuk Festiandani – H. Sugirah yang telah dinyatakan maju sebagai calon yang disung oleh PDI Perjuangan. Sedangkan nama-nama yang lain hanyalah simulasi jika terjadi.

Hasilnya, pasangan Munif Syafaat-Teddy Anugrianto meraup 26,3% disusul tempat kedua Ipuk Festiandani-H. Sugirah 16,6%. Jika pasangan Teddy disandingkan dengan Yusuf Widyamoko dipilih responden sebanyak 11,8%. Sedangkan jika nama Munif Syafaat digandeng dengan Yusuf Widyamoko hanya meraih 9,4% suara. Sedangkan yang tidak menjawab atau merahasiakan pilihannya mencapai angka 35,9%.

Angka yang belum menentukan atau merahasiakan pilihan merupakan angka penentu kemenangan masing-masing bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati. Angka tersebut masih bisa berubah karena pelaksanaan Pilbup masih berjarak 4 bulan lagi.

Namun sebaliknya, jika masing-masing pasangan disebutkan dengan jabatannya, maka duet Teddy Anugrianto sebagai calon bupati dengan Munif Syafaat sebagai calon wakil bupati akan meraih angka 46,7%. Jika kedua pasangan itu jabatannya dibalik, maka hanya menghasilkan 39,8% suara.

Lalu jika Yusuf Widyamoko menjadi calon bupati disanding dengan Munif Syafaat sebagai calon wakil bupati meraih suara 37,4%. Sedangkan Jika dibalik, selisihnya hanya 28,7%.

Simulasi berlanjut jika Teddy Anugrianto menjadi calon bupati dengan wakilnya Yusuf Widyamoko, suara yang diraih mencapai angka 39,7%. Jika dibalik, hanya menghasilkan 28,4% suara.

Dari jenis kelamin, pemilih laki-Laki lebih dominan memilih Munif Syafaat sebanyak 49,3%  tempat kedua Teddy Anugrianto sebesar 42,9% sedangkan  Ipuk Festiandani unggul dipemilih Perempuan dengan skor 42,4%. Jika terjadi head to head pasangan Ipuk Festiandani-H. Sugirah versus Teddy Anugrianto-Munif Syafaat pemilih perempuan lebih dominan memilih paslon Ipuk Festiandani-H. Sugirah 34,1% Sedangkan Munif Syafaat-Teddy Anugrianto mayoritas dipilih emilih laki-laki sebesar 50,9%. Dari sisi usia, ada empat kelompok usia, yakni milenial berusia  17-20 tahun atau generasi Z, lalu usia 21-35 tahun atau generasi Y, usia 35-55 tahun atau generasi Z dan usia diatas 55 tahun atau generasi old.
Bacabup/Bacawabup Teddy Anugrianto mendapat dukungan milenilal terbanyak sebesar 45,4% tempat kedua Munif Syafaat 37,4% Sedangkan Ipuk Festiandani mendapat dukungan Generasi z usia 35-55 terbanyak sebesar 38,7% dan Yusuf Widyamoko 37,2%  Margin of Error (MoE) pada data crosstab ini lebih dari 2.8%
Berdasarkan latar belakang pekerjaan pemilih, Ipuk Festiandani dan Yusuf Widyamoko menguasai pemilih dengan latar belakang pekerjaan pengajar, PNS, Pejabat, Pengusaha, Profesional dan Wiraswasta. Sedangkan Munif Syafaat dan Teddy Anugrianto menguasai kalangan pelajar serta para buruh, nelayan dan para pencari kerja.

Survei ini menggunakan metode stratified multistage random sampling. Jumlah sampel  dalam survei ini adalah 1200 responden dengan margin of error +/- 2.8 % pada tingkat  kepercayaan 95%.
Pengambilan data survei (penentuan responden dan wawancara di lapangan) dilaksanakan  pada 10 – 15 JULI 2020. Survei ini dijalankan secara mandiri dengan dibiayai oleh LKPP secara mandiri tanpa sponsor siapapun.

Validasi data sampel dilakukan dengan  membandingkan karakteristik demografis dari  sampel yang diperoleh dari survei dengan populasi yang diperoleh melalui data sensus (BPS) terakhir.

loading...

News Feed