oleh

PP Banyuwangi, Ada Dugaan Kriminalisasi Dalam Kasus Dua Pemuda Diperkebunan Kalibendo

BERITA9, BANYUWANGI – Diduga ada upaya kriminalisasi dalam kasus yang menimpa Yoga Pratama (18) dan Syaiful (17), dua pemuda asal Desa Bulusari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Banyuwangi, Zamroni SH, saat mendatangi kantor bupati setempat, Senin (3/8/2020).

“Pengakuan Yoga kepada keluarga, saat diamankan pihak perkebunan, dia tidak membawa singkong, karena sudah habis dibakar dan dimakan, namun ketika di kepolisian, tiba-tiba ada barang bukti setengah karung singkong,” ucapnya.

Disampaikan, lanjutnya, singkong yang dijadikan barang bukti adalah singkong yang disinyalir disiapkan oleh pihak perkebunan Kalibendo.

“Jika itu benar, ada apa dengan penegakan supremasi hukum di Banyuwangi,” cetus Zamroni.

Sekedar diketahui, kedatangan ormas loreng hitam oranye ke kantor bupati Banyuwangi, ini dalam rangka mendampingi puluhan masyarakat Desa Bulusari, Kecamatan Glagah. Guna mencari keadilan atas perkara yang menimpa Yoga Pratama dan Syaiful.

Disitu massa ditemui oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banyuwangi, Ir Mujiono, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Arief Setyawan dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Abdul Aziz Hamidi. Begitu mendengar uneg-uneg kalangan wong cilik asal Desa Bulusari, Kecamatan Glagah, ketiganya langsung tertunduk. Seakan ikut merasakan keluh kesah warga. Mengingat belakangan kondisi perekonomian masyarakat di Banyuwangi, memang cukup terpuruk imbas penyebaran Covid-19.

“Sesuai Keputusan Bupati Banyuwangi No 188 Tahun 2019 tentang Penetapan Kelas Kebun Berdasarkan Hasil Penilaian Usaha Perkebunan Tahun 2019, di perkebunan Kalibendo tidak terdapat komoditi singkong. Namun yang tertera hanya komoditi karet, kopi dan cengkeh,” ungkap Zamroni.

Namun, lanjutnya, diperkebunan Kalibendo, terdapat berhektar-hektar tanaman singkong, durian, buah naga, jagung dan pisang. Diperkirakan kondisi tersebut makin membuat ekonomi warga sekitar perkebunan, khususnya di Desa Bulusari, makin jeblok. Karena komoditi pisang dan jagung milik warga kalah bersaing dengan hasil panen dari perkebunan.

Dari penjabaran tersebut, Sekda Kabupaten Banyuwangi, Ir Mujiono, berharap Pemuda Pancasila terus mendampingi perjuangan masyarakat Desa Bulusari, Kecamatan Glagah.

“Karena sudah menjadi keharusan, keberadaan investasi atau perusahaan di Banyuwangi, harus mampu memberi manfaat pada masyarakat sekitar,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Arief Setyawan, juga meminta Pemuda Pancasila Kabupaten Banyuwangi, untuk membuat laporan tertulis. Yang selanjutkan akan segera ditindaklanjuti.

“Laporan tersebut akan menjadi dasar kami dalam melakukan tindakan,” ucapnya.

Dalam tatap muka tersebut, seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dengan tegas menyampaikan dukungan atas perjuangan masyarakat Desa Bulusari, Kecamatan Glagah. Termasuk upaya permohonan hearing yang akan dilakukan ormas Pemuda Pancasila.

Puas menyampaikan aspirasi di kantor bupati, rombongan melanjutkan aksi di Kantor DPRD Kabupaten Banyuwangi. Disitu, mereka disambut oleh Wakil Ketua, Ruliyono dan Ketua Komisi I, Iriyanto.

Dalam pertemuan diruang khusus, wakil rakyat berharap permasalahan yang menimpa Yoga Pratama dan Syaiful bisa diselesaikan secara baik-baik.

“Dalam waktu dekat, hearing akan segera kita jadwalkan, makin cepat makin baik,” tegas Ruliyono.

Dikantor DPRD Kabupaten Banyuwangi, Kapolsek Glagah, AKP Imron, juga menjelaskan kronologi penangkapan Yoga Pratama dan Syaiful, yang masih berstatus anak dibawah umur. Menurutnya, disini pihaknya hanya diserahi kedua pelaku sekaligus barang bukti singkong oleh pegawai perkebunan Kalibendo.

Dia terangkan pula tentang Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP, yang mengamanatkan bahwa kasus pencurian dengan kerugian dibawah Rp 2,5 juta merupakan kasus pidana ringan.

“Meski dengan kerugian kurang dari Rp 2,5 juta, karena pencurian terjadi dimalam hari, maka pelaku dijerat Pasal 363 KUHP, atau pencurian dengan pemberatan,” katanya.

“Dan kasus pencurian itu masuk dalam pidana biasa, maka saat laporan dicabut sekali pun, proses tetap lanjut,” imbuh AKP Imron.

Sementara itu, Misnoyo, selaku kerabat pelaku menjelaskan bahwa kasus pencurian singkong tersebut terjadi pada Senin malam, 20 Juli 2020 lalu. Penangkapan bermula dari kedatangan SLM dan MNR, mandor dan petugas keamanan perkebunan di bawah naungan PT Perusahaan Perkebunan Kalibendo, dirumah Syaiful, sekitar pukul 21.00 WIB.

“Syaiful cerita, saat datang kerumahnya, pegawai perkebunan tersebut membawa senjata tajam, semacam parang, jadi dia ketakutan,” ungkap Misnoyo.

Setelah itu, Yoga dan Syaiful sekitar pukul 23.00 WIB, dijemput sejumlah petugas keamanan perkebunan Kalibendo, WH, SPT, JR, MNT, AR, SLM dan MNR. Selanjutnya dibawa ke Resto 1911, milik perkebunan di Dusun Kalibendo, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah. Baru pada Selasa dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, kedua diserahkan ke Polsek Glagah.

Karena masih dibawah umur, Syaiful dikenakan wajib lapor. Sedang Yoga Pratama sempat ditahan hingga akhirnya kini dilakukan penangguhan penahanan.

“Mereka bercerita, singkong yang menjadi barang bukti di kepolisian bukan hasil curian mereka, tapi diduga singkong yang disiapkan oleh pihak perkebunan untuk dijadikan barang bukti,” cetusnya.

Hasil pemeriksaan kepolisian, Yoga Pratama dan Syaiful melakukan pencurian singkong di perkebunan Kalibendo, bersama dua orang rekannya Sodik serta Rusdi, yang juga warg Desa Bulusari, Kecamatan Glagah. Disebutkan, keduanya kabur beserta dua karung singkong hasil curian.

Diperkirakan seluruh singkong yang dicuri sebanyak 450 kilogram. Dengan harga pasaran terkini sekitar Rp 3 ribu per kilogram, maka nilai seluruh singkong curian sebesar Rp 1.350.000. (red)

loading...

News Feed