oleh

Dinkes Banyuwangi Segera Cek Soal Dugaan Mal Praktek Oknum Perawat

BERITA9, BANYUWANGI – Dinas kesehatan Kabupaten Banyuwangi, akan segera cek oknum perawat yang diduga melakukan mal pratek. 

Seperti diketahui Poni, warga RT 02 RW 04, Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, diduga menjadi korban mal praktek yang dilakukan oleh Hadari, oknum perawat yang membuka praktek di Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari.

” Kita akan cek dulu,” kata dr. Widji Lestariono, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Banyuwangi, kepada wartawan melalui sambungan Whatsapsnya. Senin (16/7/2020).

Sebelumnya, Sumadi salah satu keluarga pasien asal RT 02 RW 04, Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, mengancam akan mengambil langkah setelah kasus yang menimpa kakaknya dipelajari.

Bahkan, tidak hanya itu saja, dirinya juga akan mengirim surat ke Dinas Kesehatan (Dinkes), dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Banyuwangi, dan beberapa intansi terkait.

Sebelumnya juga diberitakan karena diduga menjadi korban mal praktek ibu rumah tangga asal Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi harus rela kehilangan salah satu ibu jari kakinya. Bagaimana tidak, setelah dirinya menjalani pengobatan dengan cara dibedah kukunya oleh salah satu oknum perawat kini ia harus menelan pil pahit karena salah satu ibu jari kakinya harus dipotong.

Poni, warga RT 02 RW 02 Dusun Krajan, Desa Dasri, Tegalsari, diduga menjadi korban mal praktek yang dilakukan oleh salah satu perawat yang membuka praktek di Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari. Akibatnya saat ini dirinya harus rela kehilangan salah satu ibu jarinya, karena dipotong (Amputasi).

Pada hari Jum,at (10/7/2020) malam, salah satu ibu jari saya dipotong dirumah sakit Alhuda, Genteng,” katanya kepada Wartawan.

Pemotongan salah satu ibu jari, ibu rumah tangga asal Desa Dasri, tersebut diduga buntut akibat ia berubat kesalah satu perawat diwilayah setempat.

“Setelah kuku ibu jari saya dibedah dan dibuang oleh Pak Hadari, kini saya harus kehilangan salah satu ibu jari kaki saya,” ungkap Poni.

Poni, juga menjelaskan hingga saat ini pihaknya tidak habis pikir, kenapa kalau memang harus dipotong ibu jari saya tidak disarankan dari awal.

Pada hari Jum,at (3/7/2020) lanjutnya, kuku saya dibedah, dan dibuang oleh Pak Hadari, dan selang tiga hari pada Senin, (6/7/2020) pada saat kontrol Pak Hadari, menyarankan agar ibu jari saya segera dilkukan pemotongan,” terangnya.

Sementara Hadari, perawat yang buka praktek di Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, saat dikonfirmasi melalui sambungan telefonya irit komentar.

“Saya sudah arahkan agar dibawa kerumah sakit, dan maaf saya masih ada kepentingan,” ujarnya, kemudian buru – buru menutup sambungan telefonya.(red)

loading...

News Feed