oleh

Aktivis & LSM Banyuwangi Dampingi Keluarga Muhamad Mencari Keadilan

BERITA9, BANYUWANGI – Pembokaran paksa rumah milik Pasangan Suami Istri (Pasutri) Muhamad dan Imsiyah, yang bekerja sebagai pemulung di jalan Wijaya Kusuma, Kelurahan, Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, mejadi perhatian beberapa LSM dan aktivis Bumi Blambangan.

Seperti diketahui Cung Ket alias Sudjiono, pengusaha pengolahan plastik mengaku sudah membeli dua rumah milik Mohammad (57), yang terletak di Jalan Wijaya Kusuma, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi.

 Atas klaim itu sehingga dirinya pun tak ragu untuk merobohkan dua rumah yang dulunya pernah menjadi tempat tinggal Mohammad beserta keluarganya tersebut hingga rata dengan tanah.

“Rumah beserta rumah itu milik saya, sudah dijual belikam dan komplet dengan suratnya dan bersertifikat atas nama saya,” kata Cung Ket saat dikonfirmasi beberapa awak media di pabrik pengolahan plastik miliknya, di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Kamis (13/8/2020).

Kendati demikian, saat beberapa awak media dan LSM meminta ditunjukkan bukti kepemilikannya atas rumah yang ia klaim telah dibelinya dari Mohammad tersebut, dirinya enggan menunjukan. 

” Maaf saya tidak bisa menunjukan ke sembarang orang termasuk ke Wartawan dan LSM. Yang berhak melihat itu Polisi. Laporkan dulu ke Polisi,”ucapnya.

Kata Cung Ket, sudah beberapa kali dirinya didatangi pengacara dan LSM dari pihak Mohammad terkait permasalahan tersebut. Bahkan, dirinya pernah dilaporkan ke Polsek setempat saat membongkar rumah Mohammad pada tahun 2018 lalu.

“Dulu kan pernah saya bongkar rumahnya dan saya dilaporkan ke Polsek. Kami santai saja, karena saya sudah punya bukti hak milik,” kata Cung Ket.

Sementara Yunus Wahyudi, Ketua Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ), dirinya bersama teman LSM dan aktivis Bumi Blambangan lainya mengaku akan mendampingi Muhamad sekeluarga dalam mencari keadalian.

” Kita disarankan oleh petugas untuk mengecek di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuwangi, terkait status kepemilikan tanah yang dikuasai oleh Cung Ket,” ujarnya.

Jika di BPN, kata Yunus, masih atas nama Mohammad, laporannya akan diterima atas dugaan pengrusakan. Karena masih hak milik Muhammad. Namun, jika sudah berubah nama, maka dirinya menduga ada pemalsuan atau rekayasa terkait pengurusan sertifikat hak milik tersebut.

“Karena menurut pengakuan Mohammad dan Imsiyah istrinya, bahwasanya rumah tersebut tidak pernah mereka jual belikan kepada Cung Ket, atau siapapun. Apalagi menandatangani akta jual beli (Jubel) di hadapan Notaris,” ungkapnya.

Yunus pun menduga, ada yang tidak beres ketika Cung Ket, tidak melanjutkan pembangunan di bekas rumah Mohammad yang telah dirobohkanya tersebut, karena dihentikan paksa oleh Satpol PP karena tidak adanya IMB.

“Saya curiga, ketika Cung Ket, ini membangun dan tidak bisa mengurus IMB. Berarti nama sertifikat rumah itu adalah masih atas nama Mohammad,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh  Daud Djoni WD, selaku Ketua DPC LSM KOBRA Banyuwangi, dirinya mengaku ikut perihatin atas apa yang dialami kelurga Muhamad dan Imsiyah. Karena mereka  tidak merasa tanda tangan dan cap jempol masalah akte jual beli, rumah dan tanahnya dikuasai orang lain.

Kami menduga, dalam persoalan ini adanya konspirasi yang dilakukan oleh atau bersama pihak terkait seperti oknum Bank atau Notaris,” ungkapnya. (red)


Reporter: Haris.

loading...

News Feed