oleh

Gagal Berobat Diperawat, Ibu Ini Harus Kehilangan Salah Satu Ibu Jari Kakinya

BERITA9, BANYUWANGI – Karena diduga menjadi korban mal praktek ibu rumah tangga asal Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi harus rela kehilangan salah satu ibu jari kakinya.

Bagaimana tidak, setelah dirinya gagal menjalani pengobatan dengan cara dibedah kukunya oleh salah satu oknum perawat kini ia harus menelan pil pahit karena salah satu ibu jari kakinya harus dipotong.

 Seperti diketahui Poni, warga RT 02 RW 02 Dusun Krajan, Desa Dasri, Tegalsari, diduga menjadi korban mal praktek yang dilakukan oleh salah satu perawat yang membuka praktek di Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari. Akibatnya saat ini dirinya harus rela kehilangan salah satu ibu jarinya, karena dipotong (Amputasi).

Pada hari Jum,at (10/7/2020) malam, salah satu ibu jari saya dipotong dirumah sakit Alhuda, Genteng,” kata Poni, warga Dusun Krajan, Desa Dasri, Tegalsari, kepada Wartawan.

Pemotongan salah satu ibu jari, ibu rumah tangga asal Desa Dasri, tersebut diduga buntut akibat ia berubat kesalah satu perawat diwilayah setempat.

“Setelah kuku ibu jari saya dibedah dan dibuang oleh Pak Hadari, kini saya harus kehilangan salah satu ibu jari kaki saya,” ungkap Poni.

Poni, juga menjelaskan hingga saat ini pihaknya tidak habis pikir, kenapa kalau memang harus dipotong ibu jari saya tidak disarankan dari awal.

Pada hari Jum,at (3/7/2020) lanjutnya, kuku saya dibedah, dan dibuang oleh Pak Hadari, dan selang tiga hari pada Senin, (6/7/2020) pada saat kontrol Pak Hadari, menyarankan agar ibu jari saya segera dilkukan pemotongan,” terangnya.

Sementara dr. Sismulyanto, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Banyuwangi, saat dikonfirmasi terkait persoalan tersebut melalui sambungan Whatsappsnya dirinya enggan berkomentar.

” Saya tidak menangapi nya karena tidak seperti itu ada nya,” kata dr. Sismulyanto. Minggu (12/7/2020).

Sumadi, salah satu keluarga /kerabat Poni, sangat menyayangkan kejadian tersebut. Bahkan dirinya mengaku akan berkirim surat ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi, dan intansi terkait.

” Kami sangat menyayangkan kejadian ini mas. Ini masih kita pelajari insa allah besok sudah ada keputusan tentang langkah apa yang akan kita ambil,” ucap Sumadi.

Diberitakan sebelumnya, terus terang kami para keluarga sangat kecewa atas tindakan Pak Hadari. Kenapa jika harus dipotong ibu jarinya tidak bilang dari awal. Setelah dibedah lalu gagal baru diarahkan untuk dilakukan pemotongan pada ibu jari kakak saya, ini kan aneh,” tegas Sumadi, keluarga pasien.

Yang aneh lagi, lanjut Sumadi, kakak saya dibuang kukunya pada hari Jum,at (3/7/2020), kemudian jarak tiga hari pada hari Senin (6/7/2020) beliau sudah menyarankan agar ibu jari kakak saya harus segera dipotong. 

“Yang menjadi pertanyaan kami, kenapa tidak dari awal disarankan untuk dipotong,” keluhnya.

Yang lebih kami sesalkan, lanjut Sumadi, atas kejadian ini, pihak keluarga pernah memdatangi Hadari, diminta untuk melihat kondisi Poni, (Pasien) namun beliaunya tidak datang.

” Saat pihak keluarga meminta pada pak Hadari, untuk melihat kondisi pasien beliaunya juga tidak datang,” ucapnya.

Sementara Hadari, perawat yang buka praktek di Dusun Krajan, Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, saat dikonfirmasi melalui sambungan telefonya irit komentar.

“Saya sudah arahkan agar dibawa kerumah sakit, dan maaf saya masih ada kepentingan,” ujarnya, kemudian buru – buru menutup sambungan telefonya.(red)

loading...

News Feed