oleh

Pertarungan Antara Pendopo Banyuwangi Vs Luar Pendopo

BERITA9, BANYUWANGI – Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur, menjadi isu dan perbincangan dan perhatian publik. Dapat dikatakan isu Pilkada Jawa Timur dapat menjadi acuan dalam kondisi kecil (H Ref/Program) perpolitikan di Indonesia.

Patern sosial budaya dan fragmentasi heterogennya masyarakat melatar belakanginya bagaimana pemilih memberikan persepsi maupun penilaian yang cukup komplek dan sangat beragam. Strategi-strategi yang berkembang bak layaknya pengamat bola yang aktif berkomentar dan memprediksi bagaimana pola permainan yang akan terjadi dan siap yang bakal menjadi pemenangnya. 

Yang takalah seru aspek yang terkait fundamentalis isu yang menjadi bumbu-bumbu penilaian yang subyektif, misalkan saja kondisi keluarga sang jagoan bola, kondisi keuangan, cidera sang lawan, sampai perceraian dengan kekasihnya sang idola, menjadi perbincangan dan menyedot perhatian pemirsa. 

Dekomposisi dari berbagai pokok permasalahan/materi menjadi unsur-unsur penilaian yang menandatakan masyarakat Jawa Timur menjadi masyarkat yang plural dari berbagai pertimbangan sosial budaya bahkan falsafah religiulitas mewarnai peta percaturan politik dan berdemokrasi. 

Tidak kalah pentingnya tumbuh sebagai masyarat yang cerdas dengan pertimbangan yang muncul dari latar belakang kaum intlektual dengan pengaruh perguruan tinggi ternama yang ada di Jawa Timur, ada ITS, Unair, Brawijaya, Unej dan belum lagi besarnya Patern Pendidikan berbasis Keagamaan, mulai Santri Tapal Kuda, Perguruan Tinggi NU dan Muhamadiyah, yang kesemua faktor tersebut akan dihadapkan pada realitas kebijakan maupun aturan pemerintah akan mengerucut pada 2 kandidat yang saling head to head, dari 3 menjadi 2 dan akan terpilih 1, meskipun peralihan yang konvergen jarang ada, biasanya dihadapkan langsung terpecah menjadi 2 bakal calon yang saling berhadapan. (Parliamentari Treashold yang seharusnya sudah direvisi).

Banyuwangi adalah salah satu Kabupaten (Jawa Timur) yang juga akan mencari pengganti Bupati setelah Abdullah Azwar Anas, telah memimpin 2 periode (10 Tahun / 2010 – 2020). Meskipun banyak isu baik perspektif positif maupun isu ketidakpuasan masyarakat dalam pencapaian ekonomi dan kesejahteraan, telah menjadikan Banyuwangi menjadi dikenal diseantero Indonesia.

Pola pencitraan yang sangat kuat, hubungan dengan pusat yang dapat terjalin dengan komunikasi yang baik, merupakan capaian yang  dapat dikatakan psoitif, gebyar budaya pariwisata yang aktif untuk di publikasikan, mendorong wisatawan dan pelaku usaha untuk datang dan berinvestasi di Banyuwangi, sektor Jasa dan pendukungnya tumbuh, restoran, café, hotel besar kecil, transportasi, perumahan properti menjadi multiplayer efek dalam bangkitan ekonomi. 

Penilaian sektor industry maupun manufactur belum terlihat menjadi trend yang positif, juga pada fokus peningkatan intensifikasi sumber daya alam (pertanian, peternakan dan perikanan) yang belum dikembalikan lagi sebagai unggulan/diperhatikan sebagai capaian dalam pola peningkatan operasi produksi dalam nilai kapasitas maupun kualitas yang terintegrasi dengan entitas peningkatan nilai tambah (Entitas produksi dan industry). 

Isu terkait pengelolaan pertambangan Tumpang Pitu yang dirasakan masyarakat, tidak banyak memberikan penigkatan ekonomi dan kesejahteran/kemakmuran masyarakatnya, hal ini masih munculnya gejolak perlawanan baik dalam bentuk aksi-aksi penolakan dan demontrasi masyarakat, penyelesaian represif keamanan dengan merujuk obyek vital nasional, menjadikan turunya kewibawaan pemerintahannya. Golden Share yang terdelusi, dan bagi hasil yang sangat kecil menjadikan pertanyaan besar di masyarakat Banyuwangi. 

Ketidakpuasan antara capaian yang bersifat positif maupun negatif, menjadikan bahan pertimbangan bagi pemilih dalam pertimbangan alternatif Bacalon Bupati masa periode ke depan. (red)

Penulis: Andi Purnama, (Pengamat Kebijakan publik dan pembangunan).

loading...

News Feed