oleh

Adakah Calon Arus Bawah di Pilbup Banyuwangi ?

BERITA9, BANYUWANGI – Suhu politik di Banyuwangi semakin terasa ‘panasnya’. Para elite partai mulai melirik sosok potensial yang bisa diandalkan meraih kursi nomor satu di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa.

Sebelum melirik keluar, para elite tentunya melihat potensi kader internal yang bisa diusung maju di pesta demokrasi lima tahunan itu.

Partai politik mulai menjaring beberapa nama untuk dilakukan pengetesan alias uji kompetensi. Didapat kabar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah melakukan itu.

Partai berlambang Ka’bah yang memiliki empat kursi di legislatif lokal, tentu tidak bisa mencalonkan sendiri jagoannya. Mereka wajib merangkul partai lain guna memenuhi ambang batas pencalonan yang ditetapkan undang-undang.

Ada beberapa nama calon potensial yang bisa dijadikan ‘lawan’ tanding calon yang telah diumumkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ipuk Fiestiandani.

Ipuk yang notabenenya istri bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, digadang-gadang menjadi calon terkuat karena didukung partai kuat. Terlebih, secara finansial, Ipuk tak perlu diragukan.

Lantas, bagaimana dengan para calon yang secara finansial lemah tetapi memiliki basis massa yang kuat? Bagaimana dengan individu yang memiliki potensi bagus secara akademik? Apakah mereka dilirik elite partai politik?

Wakil Ketua Umum Setara Institute, Bonar Tigor Nainggolan berpendapat, majunya kerabat terdekat petahana, menandakan gagalnya kaderisasi kepemimpinan penguasa yang berkuasa.

Pun dengan PDIP, Bonar menilai, gagal melahirkan kader potensial yang mampu mengejawatahkan program, ideologi dan proses kaderisasi di tubuh partai banteng moncong putih itu.

“Saya yakin, masih banyak kader yang jauh lebih bagus, tapi tidak diusung karena tidak mendapat dukungan elite partai” kata Bonar kepada tim liputan BERITA9 di Jakarta, Jumát (10/7/2020).

Senada dengan itu, cendikiawan muslim Prof. Dr. Komaruddin Hidayat mengatakan, partai politik telah disetir oleh kepentingan oligarki segelintir elite. Maka tak heran, partai gagal melahirkan kader yang berkualitas.

“Sudah 20 tahun lebih, perjalanan reformasi ini. Tapi apa yang terjadi, malah banyak menimbulkan masalah baru. Ini perlu perbaikan bersama kedepan,” kata Komaruddin Hidayat di Jakarta.

Komaruddin menjelaskan, partai tidak memiliki akar ke masyarakat disebabkan oligarki yang begitu melanda partai politik. Maka tak heran berakibat pada ketidakadaan basis massa yang kuat guna mengejawantahkan ideologinya.

“Di sisi lain, parpol juga tidak melahirkan politisi-politisi dengan gagasan-gagasan kenegarawaan yang cemerlang. Hal itu karena keputusan partai dibajak oleh segelintir elit dalam partai,” ujarnya.

Hasil Survey

loading...

News Feed