oleh

Merdeka Tanpa Hoaks

Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman : “(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin Tuhan mereka”. (QS. Ibrahim, 14 : 1). 

Kata merdeka terlihat sederhana, tetapi memiliki makna yang teramat dalam.
Secara harfiah merdeka, adalah pintu gerbang menuju ‘tambang emas’ pada kehidupan yang lebih baik. Kebebasan meraih mimpi yang lebih nyata ketimbang mimpi dialam non nyata.

Intinya, merdeka yaitu lepas dari belenggu pihak lain yang menjerat hak asasi kita sebagai manusia, bangsa dan negara.

Oleh karena itu kemerdekaan adalah anugerah Tuhan, tidak boleh dirampas oleh siapapun termasuk oleh negara. Segala bentuk perbudakan dan penjajahan harus dihapuskan dan dilenyapkan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan kodrat manusia, makhluk mulia.

Sejak manusia dilahirkan, Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan setiap hamba kemerdekaannya. 

Merdeka memilih perbuatan baik atau buruk, dosa atau pahala, surga atau neraka. Bagi manusia yang berfikir, kemerdekaan yang diperoleh dari Tuhan akan diisi dengan perbuatan baik sesuai ajaran Tuhan melalui agama.

Dia akan menghindari perbuatan yang telah dilarang Tuhan dalam agama melalui kitab suci yang diyakini kebenarannya.

Salah satu kenikmatan merdeka adalah bisa menuangkan ide, gagasan atau bahkan kritik diatas kertas putih polos dengan tinta emas.

Coba bandingkan saat Indonesia terjajah, menulis atau sekedar mendapatkan informasi, baik dari media massa, buku atau literatur merupakan barang langka yang sulit didapatkan. Jikapun ada dan ketahuan, penjajah segera memberangus dan menangkap sang penulis.

Bandingkan dengan saat ini, dimana akses informasi dan kebebasan menulis bisa dengan mudah kita dapatkan. Setiap manusia Indonesia bebas menulis apa saja dengan beraneka ragam platform. 

Tetapi, Merdeka bukan berarti kita lepas dari aturan. Melenggang kangkung dengan mengabaikan etika dan peradaban manusia. Atau melepaskan diri dari tatanan hukum yang berlaku di agama dan negara.

Seperti jurnalis, sebuah profesi mulia karena ia bisa dianggap mewakili suara inti rakyat yang menggaungkan kebenaran.

Dalam menuangkan tulisan, jurnalis secara merdeka bisa memuat kata apapun dalam rangkaian kalimat yang dikemas secara apik dengan tata bahasa yang mudah dimengerti umum.

Tetapi, jurnalis wajib meninggalkan kepentingan ego sektoralnya agar tulisan yang dibuat tidak menjadi arena penumpahan emosi pribadi.

Jurnalis harus mampu membuat tulisan secara berimbang dengan memenuhi  kaidah etika jurnalistik dengan berpangku pada cover both side alias berimbang.

Jika masih ditemukan jurnalis membuat tulisan dengan tendensius, maka bisa dipastikan ia telah mensalahartikan kata merdeka.

Jurnalis harus mampu menjadi pihak ditengah secara adil. Jika Ia mampu mewujudkan diri sebagai penyambung lidah rakyat maka ia pantas dijuluki  ‘hakim ad hock’.

Sebagai pengemban profesi mulia, jurnalis juga dituntut berani menyuarakan kebenaran dengan resiko kehilangan nyawa.

Sudah banyak contoh, sebutnya saja kasus Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, wartawan Harian Bernas Yogyakarta. Ia tewas ditangan orang tak dikenal. Banyak pihak, termasuk penulis berkeyakinan, wafatnya Udin gegara tulisannya yang mengkritisi kebobrokan penguasa lalim.

Udin wafat dengan luka serius akibat penganiayaan di depan rumahnya. Dan hingga kini, kasus kematian Udin tak pernah terungkap secara jelas siapa dalangnya.

Kasus pembunuhan Udin harusnya dijadikan momentum bagi seluruh jurnalis Indonesia, agar berani menyuarakan kebenaran secara hakiki. Almarhum Udin dikenal sebagai jurnalis yang berani memuat berita yang mengoyak tidur nyenyak penguasa korup. Dan semangat itu harus tumbuh pada diri setiap jurnalis di seluruh Indonesia.

Merdeka dari hoaks, merdeka dari fitnah, adalah inti dari kemerdekaan seorang jurnalis. 

“Mas Udin selalu bilang, kalau memang ada kesalahan, ya, harus diberitakan sesuai fakta, memang begitu kerjanya wartawan,” Marsiyem, istri Udin (Rappler Indonesia 2015.

Penulis : Joko Prasetyo, Kepala Perwakilan BERITA9 Karisidenan Besuki

loading...

News Feed