oleh

Halalkah Bekicot? Ini Fatwa Majelis Ulama Indonesia

BERITA9, JAKARTA – Musim pandemi Covid-19 yang memaksa orang untuk tinggal di rumah dua bulan lebih, terpaksa harus menerima tawaran makanan melalui online. Antara lain keripik bekicot yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan penjualan online. Keripik itu dibuat di Kediri, Blitar, hingga Surabaya. Macam-macam harganya mulai dari Rp 7.000 untuk berat 15 gram hingga harga perkilogram Rp 220.000 sampai Rp 250.000.

Bagi masyarakat Kediri dan Blitar, hewan jenis ini masuk sebagai makanan favorit dan menjadi khas setelah diolah menjadi keripik dan sate.

Masyarakat kerap menyebutnya dengan 02. Bekicot cukup banyak diburu wisatawan saat berada di Kediri. Kelezatan sate bekicot serta gurihnya olahan keripik membuat produk makanan ini bertengger di etalase pusat oleh-oleh.

Daging bekicot ini unik, kenyal dan enak jika menjadi sate, sekaligus gurih dan renyah jika dijadikan keripik. Ini menu favorit jika pulang kampung, komentar penggemar bekicot. Diakui bekicot memiliki kandungan nutrisi tinggi. Namun, tentu juga menyimpan bahaya kesehatan jika salah memasaknya. Sebuah situs kesehatan di Indonesia baru-baru ini mengumumkan tujuh bahaya mengkonsumsi daging bekicot.

Keracunan hingga kerusakan ginjal bisa mengancam siapapun yang mengkonsumsi daging bekicot, jika salah dalam memasaknya. Sebab, bekocot membawa bakterti salmonella yahnjg cukup berbahaya. Namun, jika memasaknya baik bakteri itu akan mati dan 02 aman dikonsumsi.

Bekicot

Bekicot atau Achatina fulica adalah siput darat yang tergolong dalam suku Achatinidae dan berasal dari Afrika Timur. Binatang itu kemudian menyebar ke hampir semua penjuru dunia melalui perdagangan.

Moluska ini sekarang menjadi salah satu spesies invasif terburuk sehingga beberapa negara melarang pemeliharaannya, antara lain Amerika Serikat. Hewan ini mudah dipelihara dan di beberapa tempat bahkan dikonsumsi. Meskipun berpotensi membawa parasit, bekicot yang dipelihara biasanya bebas dari parasit.

Bekicot di luar negeri di kenal dengan nama escargot (baca eskargo) di Prancis. Orang Prancis sangat menyukai masakan dengan bahan baku ini. Para pemburu kuliner di sana akan menilau sebuah restoran dari penyajian dan cara masak escargot.

Bekicot yang ada di Indonesia dari species Achatina Fulica yang memiliki turunan: Achatina Fulica Rodatzi, Achatina Fulica Sinistrosa, dan Achatina Fulica Umbilicata.
Bekicot di wilayah Indonesia memiliki nama yang berbeda-beda.

Jawa Tengah dan Jawa Timur biasa mengenalnya dengan Bekicot atau Siput. Jawa Barat biasanya mengenalnya dengan Keong Racun. Bekicot Keong mas, keong sawah, dan tutut dianggap berbahaya karena membawa parasit cacing yang berbahaya bagi manusia dan dapat menyebabkan radang otak (meningitis).

Fatwa MUI

Lantas, halalkah bekicot? Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 10 Rajab 1433 H atau 31 Mei 2012 M sudah mengeluarkan dua fatwa terkait dengan bekicot, yaitu Fatwa nomor 24 tahun 2012 tentang pemanfaatan bekicot untuk tujuan non-pangan, semisal untuk pembuatan kosmetika atau obat luar. Fatwa nomor 25 untuk hukum memakan bekicot.

Untuk kebutuhan non-pangan ini, Komisi Fatwa MUI berfatwa bahwa: bekicot merupakan salah satu jenis hewan yang suci. Karena itu, pemanfaatan bekicot untuk kepentingan non-pangan, seperti untuk obat dan kosmetika luar, hukumnya mubah, sepanjang bermanfaat dan tidak membahayakan.

Dalam fatwa nomor 25 tahun yang sama, MUI mengeluarkan fatwa bahwa memakan bekicot haram.

Diputuskan: Bekicot merupakan salah satu jenis hewan yang masuk kategori hasyarat. Hukum memakan hasyarat adalah haram menurut jumhur Ulama (Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah), sedangkan Imam Malik menyatakan kehalalannya jika ada manfaat dan tidak membahayakan.

Hukum memakan hewan melata ini adalah haram, demikian juga membudidayakan dan memanfatkannya untuk kepentingan konsumsi.

Fatwa ini sama dengan hasil al-Majelis al-Islami lil-Ifta, Palestina pada 7 Rajab 1430 H/29 Juni 2009 yang menegaskan bahwa memakan jenis bekicot darat (al-halzun al-barri), dengan merujuk pendapat jumhur ulama yang menyatakan haram.

Apa pertimbangannya?

Terkait untuk kepentingan non-pangan, pendapat jumhur Ulama yang menyatakan bahwa semua binatang yang hidup hukumnya tidak najis kecuali anjing dan babi, antara lain pendapat Imam an-Nawawi sebagaimana termuat dalam kita al-Majmu’ Juz I halaman 172:

… وَمَذْهَبُنَا أَنَّ سُؤْرَ الْهِرَّةِ طَاهِرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ، وَكَذَا سُؤْرُ جَمِيْعِ الْحَيَوَانَاتِ مِنَ الْخَيْلِ وَالْبِغَالِ وَالْحَمِيْرِ وَالسِّبَاعِ وَالْفَأْرَةِ وَالْحَيَّاتِ وَسَامٍّ أَبْرَصٍ وَسَائِرِ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُوْلِ وَغَيْرِ الْمَأْكُوْلِ، فَسُؤْرُ الْجَمِيْعِ وَعِرْقُهُ طَاهِرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ إِلاَّ الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيْرَ وَفَرْعَ أَحَدِهِمَا.

Madzhab kami berpendapat bahwa liur kucing itu suci dan tidak makruh, demikian juga liur seluruh binatang seperti kuda, keledai, binatang buas, tikus, ular, tokek dan semua hewan, baik yang dapat dimakan atau tidak boleh dimakan. Untuk itu, liur dan keringat seluruh jenis binatang adalah suci, tidak makruh kecuali anjing dan babi serta yang turunan salah satu dari keduanya.

Namun berbeda jika dikaitkan makanan. Meskipun nama bekicot yang dalam bahasa Arab itu disebut Halzun itu tak termaktub dalam Al-Quran dan hadis, namun ia masuk dalam bilangan barang yang menjijikkan (khabaits dan hasarat) yang dalam fikih termasuk haram dan dilarang dimakan. Hanya mazhab Maliki yang menyamakan hewan ini dengan belalang yang halal dimakan. Sementara mazhab lainnya mengharamkannya.

Dalam sebuah hadist disebutkan:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَيَقْبَلُ إِلاَّ طَـيِّـبًا. وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّـيِّـبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا، إِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ. وَقَالَ: يَا أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّـبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ (رواه مسلم عن أبي هريرة).

“Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah adalah tayyib (baik), tidak akan menerima kecuali yang tayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman segala apa yang Ia perintahkan kepada para rasul. Ia berfirman, ‘Hai rasul-rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. al-Mu’minun [23]: 51),

Dan berfiman pula, ‘Hai orang yang beriman! Makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu…’ (QS. al-Baqarah [2]: 172) (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Meskipun ada yang menghalalkan (Imam Malik) namun MUI memilih pendapat yang lebih banyak (jumhur). Hal ini diperkuat juga dengan fatwa ulama Palestina.

Dari fatwa ini bisa difahami, jika kita beternak hewan untuk dikonsumsi (dijual) maka menjadi haram. Berbeda jika kita beternak bekicot untuk tujuan non-pangan maka menjadi halal.

Penulis, Musthafa Helmy

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed